|
Bab
27
Mengagungkan Kehormatan-Kehormatan Kaum
Muslimin Dan Huraian Tentang Hak-hak Mereka Serta Kasih-sayang Dan
Belas-kasihan Kepada Mereka
Allah
Ta'ala berfirman:
"Dan
barangsiapa yang mengagungkan peraturan suci dari Allah, maka itulah
yang lebih baik baginya di sisi Tuhannya."
(al-Haj:
30)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan barangsiapa yang mengagungkan tanda-tanda suci - yakni agama Allah, maka sesungguhnya perbuatan sedemikian itu
adalah kerana ketaqwaan hati." (al-Haj: 32)
Lagi Allah Ta'ala berfirman:
Dan tundukkantah sayapmu - bersikap sopan santunlah
terhadap kaum mu'minin" (al-Hijr: 88)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Barangsiapa yang membunuh seseorang manusia bukan kerana
sebagai hukuman membunuh orang atau dengan sebab membuat kerosakan di bumi -
merompak dan lain-lain, maka ia seolah-olah membunuh manusia seluruhnya dan
barangsiapa memelihara kehidupan seseorang manusia,
maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya." (al-Maidah:
32)
223. Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda: "Seorang mu'min terhadap mu'min yang lain itu adalah sebagai
bangunan yang sebahagiannya mengukuhkan kepada bahagian yang
lainnya," dan beliau s.a.w. menjalinkan antara jari-jarinya."
(Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Dalam menghuraikan Hadis di atas. Imam al-Qurthubi berkata
sebagai berikut:
"Apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. itu adalah
sebagai suatu tamsil perumpamaan yang isi kandungannya adalah menganjurkan
dengan sekeras-kerasnya agar seorang mu'min itu selalu memberikan pertolongan
kepada sesama mu'minnya, baik pertolongan apapun sifatnya (asal bukan yang
ditujukan untuk sesuatu kemungkaran), Ini adalah suatu perintah yang
dikukuhkan yang tidak boleh tidak, pasti kita laksanakan.
Perumpamaan yang dimaksudkan itu adalah sebagai suatu bangunan
yang tidak mungkin sempurna dan tidak akan berhasil dapat dimanfaatkan atau
digunakan, melainkan wajiblah yang sebahagian dari bangunan itu mengukuhkan
dan erat-erat saling pegang-memegang dengan yang bahagian lain. Jikalau tidak
demikian, maka bahagian-bahagian dari bangunan itu pasti berantakan
sendiri-sendiri dan musnahlah apa yang dengan susah payah didirikan.
Begitulah semestinya kaum Muslimin dan mu'minin antara yang
seorang dengan yang lain, antara yang sekelompok dengan yang lain, antara
yang satu bangsa dengan yang lain. Masing-masing tidak dapat berdiri sendiri,
baik dalam urusan keduniaan, keagamaan dan keakhiratan, melainkan dengan
saling tolong-menolong, bantu-membantu serta kukuh-mengukuhkan. Manakala
hal-hal tersebut di atas tidak dilaksanakan baik-baik, maka jangan diharapkan
munculnya keunggulan dan kemenangan, bahkan sebaliknya yang akan terjadi, yakni
kelemahan seluruh ummat Islam, tidak dapat mencapai kemaslahatan yang
sesempurna-sempurnanya, tidak kuasa pula melawan musuh-musuhnya ataupun
menolak bahaya apapun yang menimpa tubuh kaum Muslimin secara keseluruhan.
Semua itu mengakibatkan tidak sempurnanya ketertiban dalam urusan kehidupan
duniawiyah, juga urusan diniyah (keagamaan) dan ukhrawiyah. Malahan yang
pasti akan ditemui ialah kemusnahan, malapetaka yang bertubi-tubi serta
bencana yang tiada habis-habisnya.
224. Dari Abu Musa r.a. juga, katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Barangsiapa yang berjalan di sesuatu tempat dari
masjid-masjid kita atau pasar-pasar kita sedang ia membawa anak-anak panah,
maka hendaklah memegang atau menutupi ujung-ujungnya dengan tapak tangannya,
sebab dikuatirkan akan mengenai seseorang dari kaum Muslimin dengan sesuatu
yang dibawanya tadi." (Muttafaq 'alaih)
225. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Perumpamaan kaum Mu'minin dalam hal saling
sayang-menyayangi, saling kasih-mengasihi dan saling iba-mengibai itu adalah
bagaikan sesusuk tubuh. Jikalau salah satu anggota dari tubuh itu ada yang
merasa sakit, maka tertarik pula seluruh tubuh - kerana ikut merasakan
sakitnya - dengan berjaga - tidak tidur - serta merasa panas." (Muttafaq
'alaih)
226. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. mencium
al-Hasan bin Ali radhiallahu 'anhuma dan di dekat beliau s.a.w. itu ada
seorang bernama al-Aqra' bin Habis, lalu al-Aqra' berkata: "Saya ini
mempunyai sepuluh orang anak, belum pernah saya mencium seseorang pun dari
mereka itu." Rasulullah s.a.w. lalu memperhatikan orang itu, kemudian
bersabda: "Barangsiapa yang tidak menaruh belas kasihan - kepada
sesamanya, maka tidak dibelas kasihani - oleh Allah." (Muttafaq 'alaih)
227. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Ada beberapa
orang dari kalangan A'rab - Arab pedalaman - datang kepada Rasulullah s.a.w.,
lalu mereka berkata: "Adakah Tuan suka mencium anak-anak Tuan?"
Beliau s.a.w. menjawab: "Ya." Mereka berkata: "Tetapi kita
semua ini, demi Allah tidak pernah mencium anak-anak itu."
Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah saya dapat
mencegah sekiranya Allah telah mencabut sifat belas kasihan itu dari hatimu
semua." (Muttafaq 'alaih)
228. Dari Jarir bin Abdullah, r.a., katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang tidak menaruh belas-kasihan kepada sesama
manusia, maka Allah juga tidak menaruh belas-kasihan padanya." (Muttafaq
'alaih)
229. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Jikalau seseorang dari engkau semua bersembahyang menjadi
imamnya orang banyak, maka hendaklah meringankannya, sebab di kalangan para
makmum itu ada orang lemah, ada orang sakit dan ada pula yang berusia tua.
Tetapi jikalau bersembahyang sendirian -munfarid, maka hendaklah
memperpanjangkan shalatnya itu sekehendak hatinya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: "Di kalangan makmum itu juga
ada orang yang mempunyai keperluan - yang hendak segera diselesaikan."
230. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Sesungguhnya
saja Rasulullah s.a.w. itu nescaya meninggalkan - tidak melakukan -suatu
amalan, sedangkan beliau amat suka mengerjakan amalan itu dan ditinggalkannya
tadi adalah kerana takut kalau orang-orang akan mengamalkan itu, sehingga
akan menyebabkan diwajibkannya amalan tersebut atas mereka." (Muttafaq
'alaih)
231. Dari Aisyah radhiallahu 'anha juga, katanya: "Nabi
s.a.w. melarang para sahabat melakukan puasa wishal - tidak berbuka dalam
malam hari puasa, sehingga dua hari puasa dijadikan satu dan terus berpuasa
saja. Larangan ini adalah kerana belas-kasihan kepada mereka. Para sahabat
bertanya: "Sesungguhnya Tuan sendiri suka berpuasa wishal." Beliau
s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya ini tidaklah seperti keadaanmu
semua, kerana sesungguhnya saya ini diberi makan serta minum oleh
Tuhanku." (Muttafaq 'alaih)
Ertinya ialah: Saya itu
diberi kekuatan seperti orang yang makan dan minum.
232. Dari Abu Qatadah iaitu al-Harits bin Rib'i r.a. katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya saya berdiri untuk bersembahyang dan saya
bermaksud hendak memperpanjangkannya, kemudian saya mendengar tangisnya
seorang anak kecil, lalu saya peringankan shalatku itu kerana saya tidak suka
membuat kesukaran kepada ibunya." (Riwayat Bukhari)
233. Dari Jundub bin Abdullah r.a., katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang bersembahyang Subuh, maka ia adalah di
dalam tanggungan Allah, maka itu janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu
semua dengan sesuatu dari tanggunganNya - maksudnya jangan sampai mengerjakan
kemaksiatan, jangan sampai meninggalkan shalat Subuh, juga
shalat-shalat fardhu yang lain, apalagi kalau ditambah dengan mengerjakan
berbagai kemungkaran, kemaksiatan dan lain-lain lagi, *23 sebab kalau
demikian, maka lenyaplah ikatan janji untuk memberikan tanggungan keamanan
dan lain-lain antara engkau dengan Tuhanmu itu."
Sebab sesungguhnya barangsiapa yang dituntut oleh Allah dari
sesuatu tanggunganNya, tentu akan dicapainya - yakni tidak mungkin terlepas -
kemudian Allah akan melemparkannya atas mukanya dalam neraka Jahanam."
(Riwayat Muslim)
Keterangan:
Huraian yang tertera di
atas itu adalah penafsiran menurut Imam at-Thayyibi.
Ada pendapat lain dari sebahagian para alim ulama menyatakan
bahawa maksud Hadis itu ialah:
Jangan sampai kamu semua mengerjakan sesuatu yang sifatnya
sebagai gangguan kepada orang yang selalu mengerjakan shalat subuh itu dan
dengan sendirinya juga shalat-shalat fardhu yang lain, sekalipun gangguan itu
nampaknya remeh atau tidak bererti.
Dalam Hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim ialah
bahawa yang dikerjakan itu adalah shalat Subuh dengan berjamaah.
Dari kedua macam pendapat di atas, kita dapat menarik
kesimpulan, iaitu:
(a) Seruan keras kepada kita sekalian kaum Muslimin,
agar jangan sekali-kali kita meninggalkan atau melalaikan shalat lima waktu,
agar kita senantiasa memperolehi rahmat Allah Ta'ala dan tiada seorang pun
yang berani mengganggu kita, kerana Allah telah memberikan jaminan sedemikian
itu kepada kita.
(b) Kita yang sudah mengenal kepada seseorang yang
keadaan dan sifatnya sebagaimana di atas, jangan sekali-kali kita ganggu,
baik dengan lisan atau perbuatan, dengan sengaja atau tidak, juga secara
senda-gurau atau tidak. Ringkasnya orang
tersebut wajib kita hormati, kita muliakan dan kita ikut
melindungi keselamatannya dari perbuatan orang lain yang hendak
mengganggunya, sebab ia telah berada dalam jaminan Allah Ta'ala dan menjadi
tanggunganNya, untuk mendapatkan ketenteraman, keselamatan dan kesejahteraan.
(c) Orang yang berani mengganggu orang sebagaimana di atas
itu, bererti menghina pada jaminan atau dzimmah Allah Ta'ala yang telah
diberikan kepadanya dan oleh sebab itu maka patutlah apabila dilemparkan saja
nanti di akhirat dalam neraka dalam keadaan tertelungkup yakni mukanya di
bawah.
Betapa besar meresapnya Hadis di atas itu dalam kalbu kaum
Muslimin, dapatlah kami kutipkan sebahagian keterangan yang ditulis oleh Imam
as-Sya'rani dalam kitab al-Haudh, demikian intisarinya:
"Di zaman Bani Umayyah memerintah kaum Muslimin, iaitu
sepeninggalnya Khulafa' Rasyidin, ada seorang gubernur yang diangkat oleh
mereka untuk memerintahdan mengamankan daerah Kufah dan sekitarnya. Gubernur
tersebut bernama al-Hajjaj yang terkenal kejam, zalim dan bengis. Banyak
alim-ulama yang ia bunuh secara teraniaya atau perintahnya. Namun demikian,
manakala ada orang yang dicurigai hendak melawan atau menggulingkan kekuasaan
dinasti Umayyah dan orang itu sudah menghadap di mukanya sesudah dipanggil,
biasanya al-Hajjaj bertanya kepadanya: "Apakah anda tadi bersembahyang
Subuh?" Jika dijawab: "Ya," maka orang yang hendak dipenggal
lehernya itu dilepaskan kembali. Al-Hajjaj amat takut sekali terlaknat atau
mendapatkan azab Allah, sebab ia tentunya juga pernah membaca atau mendengar
Hadis sebagaimana yang tersebut di atas itu."
Kufah kini masuk Republik Irak.
234. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahawasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudaranya orang Muslim lainnya.
Janganlah ia menganiayanya, jangan pula menyerahkannya kepada musuhnya.
"Barangsiapa memberi pertolongan akan hajat saudaranya,
maka Allah selalu menolongnya dalam hajatnya. Dan barangsiapa memberi
kelapangan kepada seseorang Muslim dari sesuatu kesusahan, maka Allah akan
melapangkan orang itu dari sesuatu kesusahan dari sekian banyak kesusahan
pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi cela seseorang Muslim, maka Allah
akan menutupi cela orang itu pada hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)
235. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Seorang Muslim adalah saudaranya orang Muslim yang lain.
Janganlah ia berkhianat kepada saudaranya itu dan jangan pula mendustainya,
juga jangan menghinakannya - juga enggan memberikan pertolongan padanya bila
diperlukan. Setiap Muslim terhadap Muslim lainnya itu adalah haram
kehormatannya - tidak boleh dinodai, haram hartanya - tidak boleh dirampas -
dan haram darahnya - tidak boleh dibunuh tanpa dasar kebenaran.
Ketaqwaan itu di sini - dalam hati. Cukuplah seseorang itu
menjadi orang jelek, jikalau ia menghinakan saudaranya yang sama
Muslimnya."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini
adalah Hadis hasan.
236. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah
s.a.w. bersabda:
"Janganlah engkau semua hasad-menghasad, jangan pula
kecuh-mengecuh, jangan benci-membenci, jangan seteru-menyeteru dan jangan
pula setengah dari engkau semua itu menjual atas jualannya orang lain. Dan
jadilah hamba Allah sebagai saudara.
Seorang Muslim itu adalah saudara orang Muslim yang lain.
Janganlah ia menganiaya saudaranya, jangan merendahkannya dan
jangan menghinakannya -
enggan memberikan pertolongan padanya. Ketaqwaan itu
ada di sini - dan beliau menunjuk ke arah dadanya sampai tiga kali. Cukuplah
seseorang itu menjadi orang buruk, jikalau ia menghinakan saudaranya sesama
Muslimnya. Setiap orang Muslim terhadap orang Muslim yang lain itu haram
darahnya, hartanya dan kehormatannya." (Riwayat Muslim)
Annaj-syu atau mengicuh ialah
apabila seseorang itu menambah harga sesuatu barang dagangan lebih dari yang
diumumkan di pasar atau lain-lain sebagainya,sedangkan ia tidak ada keinginan
hendak membelinya. Tetapi ia berbuat demikian itu semata-mata akan menipu
orang lain saja. Perbuatan semacam ini haram hukumnya.
Tadabbur ialah jikalau seseorang
tidak menghiraukan orang lain, meninggalkan berbicara dengannya dan
menganggap orang itu sebagai benda yang ada di belakang punggung atau
duburnya.
Keterangan:
Ada beberapa kelakuan buruk yang diperhatikan oleh Rasulullah
s.a.w. agar kita semua menjauhinya. Di antaranya ialah:
1. Hasad, dengki atau irihati.
2. Mengecuh ialah mengatakan pada seseorang dengan harga
tinggi atau mengatakan bahawa ia telah menawar sekian, tetapi belum
diberikan. Padahal sebenarnya tidak dan berbuat sedemikian itu perlu
menjerumuskan orang lain agar suka membeli dengan harga tinggi itu dan ia
sendiri akan menerima sebahagian keuntungan dari penjualannya itu nanti.
3. Benci-membenci.
4. Seteru-menyeteru.
5. Menjual atas jualannya orang lain
yakni seperti seorang pedagang yang berkata kepada seorang pembeli:
"Jangan jadi beli di sana dan saya mempunyai barang yang mutunya lebih
baik dan harganya lebih murah. Belilah kepada saya saja."
Demikian pula kalau ada seseorang yang berkata kepada seorang
pedagang: "jangan jadi dijual pada si A itu dan saya suka membeli itu
dengan harga yang lebih tinggi dari penawarannya."
Semua itu dilarang oleh beliau s.a.w. Tidak lain kepentingannya
agar kita sesama makhluk Allah ini dapat hidup rukun dan damai. Hal ini bukan
hanya untuk digunakan antara seseorang menghadapi orang lain, tetapi juga
antara golongan dengan golongan lainnya, juga antara satu bangsa dengan
bangsa lainnya. Kalau saja ini dilaksanakan, rasanya tidak perlu lagi
membicarakan bagaimana perdamaian dunia dapat diciptakan, sebab masing-masing
dapat menghormati yang fainnya.
Jikalau ajaran di atas itu harus digunakan untuk umum, tanpa
pandang bulu, kebangsaan, agama, faham peribadi dan lain-lain maka yang di
bawah ini ditekankan oleh Rasulullah s.a.w., terutama sekali antara kita
sesama ummat Islam, yaitu seorang Muslim wajiblah menunjukkan sikap
persaudaraan terhadap Muslim lainnya tanpa memandang golongannya, bermazhab
atau tidaknya, kepartaiannya dan lain-lain lagi. Maka itu kita semua
diperintah oleh Rasulullah s.a.w. jangan sampai melakukan:
(a) Menganiaya, lebih-lebih merampas haknya.
(b) Membiarkan kawannya, padahal memerlukan pertolongan,
nasihat dan lain-lain sebagainya.
(c) Mendustai.
(d) Menghina.
Singkatnya semua itu wajib didasarkan kepada taqwallah yang
ditunjukkan oleh beliau s.a.w. bahawa letak taqwa itu bukan di bibir, bukan
dengan pernyataan terbuka atau tertulis, bukan dengan ucapan yang kosong
melompong, tetapi letaknya ialah di dalam hati lalu dicetuskan dalam tindakan
yang nyata. Oleh sebab itu dianggap demikian pentingnya, sehingga beliau
s.a.w. mengucapkan taqwa tadi dengan menunjukkan letaknya iaitu di dalam dada
atau hati dan itu diulanginya sampai tiga kali berturut-turut.
Akhirnya Rasulullah s.a.w. menegaskan bahawa seseorang itu cukup
disebut orang jahat kalau sampai menghinakan sesama Muslimnya dengan cara apa
pun juga seperti perkataan, isyarat tangan, cibiran bibir dan lain-lain
ataupun dengan dalih atau alasan apapun.
Juga antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya itu sama sekali
diharamkan mengalirkan darahnya, merampas haknya atau merosak kehormatannya.
Kalau saja ajaran agama ini tidak dilaksanakan, mustahillah kalau
ummat Islam akan dapat merebut kejayaannya sebagaimana nenek moyangnya
dahulu. Bukan mustahil lagi, tetapi yakin akan dapat diperolehi.
Ada satu hal yang perlu dimaklumi, sehubungan dengan larangan
yang berbunyi:
"Jangan kamu semua menjual atas jualannya orang lain":
Pertanyaannya ialah: Apakah menjual cara lelong itu haram?
Jual lelong itu maksudnya ialah menunjukkan suatu benda lalu
ditawarkan kepada orang banyak. Seorang menawar lalu ada yang menambah dengan
harga lebih tinggi, orang lain lagi menambahnya pula. Demikian sampai tidak
ada yang mengatasinya, kemudian benda itu diberikan kepada orang yang menawar
dengan harga tertinggi. Hukum lelong itu dalam Islam diperbolehkan dan bukan
haram, dengan berdasarkan suatu Hadis yang mengisahkan perbuatan Rasulullah
s.a.w. sendiri, iaitu:
Suatu ketika datanglah seorang yang sedang dalam kesukaran hidup
kepada Nabi s.a.w. untuk meminta sesuatu kepadanya, tetapi beliau s.a.w.
menolaknya kerana memang tidak ada yang dapat diberikan padanya. Orang itu mengatakan
bahawa ia masih mempunyai dua benda yang dapat dijual, iaitu lapik pelana dan
gelas minum. Keduanya dibawa ke tempat Nabi s.a.w. lalu ditawarkan kepada
sahabat-sahabatnya demikian:
"Siapakah yang suka membeli lapik kuda dan gelas ini?"
Kemudian ada seorang yang berkata: "Saya suka mengambil
(membeli) kedua benda itu dengan harga sedirham. Beliau s.a.w. lalu bersabda
lagi:
"Siapakah yang suka menambah dengan sedirham?"
Orang-orang sama berdiam diri. Lalu beliau s.a.w. bertanya lagi
seperti di atas.
Selanjutnya ada seorang yang berkata: "Saya suka mengambil
(membeli) keduanya dengan harga dua dirham."
Rasulullah lalu bersabda:
"Kedua benda ini milikmu."
Jadi cara jual beli lelongan bukannya termasuk larangan
sebagaimana di atas. Maka hukumnya boleh dilakukan.
237. Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidaklah
sempurna keimanan seseorang dari engkau semua itu, sehingga ia mencintai
untuk diterapkan kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai kalau itu
diterapkan untuk dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)
238. Dari Anas r.a. juga, katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda: "Tolonglah saudaramu itu, baik ia sebagai orang yang
menganiaya atau yang dianiaya." Ada seorang lelaki bertanya: "Ya
Rasulullah, saya dapat menolongnya jikalau ia memang dianiaya. Tetapi
bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau ia sebagai orang yang menganiaya?
Bagaimanakah cara saya menolongnya itu?" Beliau s.a.w. menjawab:
"Hendaklah ia engkau cegah atau engkau larang dari perbuatan penganiayaannya
itu, sebab demikian itulah cara menolongnya." (Riwayat Bukhari)
239. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Haknya seorang Muslim terhadap orang Muslim yang lain itu
ada lima perkara iaitu menjawab salam, meninjau yang sakit, mengikuti
jenazahnya, mengabulkan undangannya dan bertasymit kepada yang bersin - yakni
kalau seseorang bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka yang mendengar
hendaklah mentasymitkan - mendoakan - dengan mengucapkan: Yarhamukallah, ertinya:
Semoga Allah merahmatimu, kemudian yang bersin itu menjawab: Yahdikumullah
wa yushtihu balakum, ertinya: Semoga Allah memberi petunjuk padamu
dan memperbaiki hatimu." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan demikian:
"Hak seorang Muslim terhadap orang Muslim lainnya itu ada
enam perkara, iaitu jikalau engkau bertemu dengannya, maka berilah salam
kepadanya, jikalau ia mengundangmu, maka kabulkanlah undangannya, jikalau ia
meminta nasihat kepadamu, maka berilah ia nasihat, jikalau ia bersin kemudian
mengucapkan Alhamdulillah, maka tasymitkanlah ia, jikalau ia sakit, tinjaulah
ia dan jikalau ia meninggal dunia, maka ikutilah jenazahnya." (Riwayat
Muslim)
240. Dari Abu Umarah, iaitu al-Bara' bin 'Azib radhiallahu
'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. menyuruh kita melakukan tujuh
perkara dan melarang kita tujuh perkara pula. Kita semua diperintah meninjau
orang sakit, mengikuti jenazah, mentasymitkan orang yang bersin, menuruti
orang yang bersumpah - misalnya seseorang berkata kepada kita: Demi Allah,
hendaklah engkau begini, maka orang yang diminta melakukannya itu supaya
meluluskan permintaannya, menolong orang yang dianiaya, mengabulkan undangan
orang yang mengundang, serta menyebarkan salam -kepada orang yang sudah
dikenal atau yang belum dikenal. Beliau s.a.w. melarang kita mengenakan
cincin yakni bercincin emas -untuk kaum lelaki, minum dengan wadah yang
terbuat dari perak, hiasan-hiasan sutera merah - ini kebiasaannya saja, jadi
selain merah dilarang pula untuk kaum lelaki, juga mengenakan baju sutera
campur katun, lagi pula mengenakan sutera istabraq - sutera tebal -
dan dibaj - umumnya sutera murni." (Muttafaq 'alaih)
Dalam suatu riwayat disebutkan: "Diperintahkan pula
mengumumkan benda yang hilang." Ini ditambahkan dalam golongan tujuh
yang pertama yakni yang diperintahkan.
Almayatsir, dengan ya' mutsannat
*24 di bawah sebelumnya ada alifnya dan tsa' mutsallatsah sesudahnya,
adalah jamak dari kata maitsarah. Ertinya ialah sesuatu hiasan yang dibuat
dari sutera dan di isi dengan kapuk ataupun lain-lainnya, lalu diletakkan di
tempat kenaikan kuda atau tempat duduk di unta yang di situlah pengendaranya
duduk.
Alqassiy dengan fathah qafnya dan
dikasrahkan sin muhmalah*25 yang
disyaddah, ertinya ialah pakaian yang dibuat sebagai tenunan dari sutera dan
katun yang dicampurkan.
Insyadudh-dhallah, iaitu mengumumkan sesuatu
yang hilang, untuk dikembalikan kepada pemiliknya.
"Musyaddadah,"
ertinya disyaddahkan, sedang kebalikannya ialah "Mukhaffafah,"
ertinya tidak disyaddahkan. Erti aslinya musyaddadah itu di beratkan dan
mukhaffafah itu diringankan.
|
Catatan pribadi agar tidak hilang untuk dibaca anak cucu dikemudian hari, amin
Minggu, 15 Januari 2017
Terjemah riyadlusholihin Bab 27 Mengagungkan Kehormatan-Kehormatan Kaum Muslimin Dan Huraian Tentang Hak-hak Mereka Serta Kasih-sayang Dan Belas-kasihan Kepada Mereka
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar