Bab.16
Memelihara Kelangsungan Amalan-amalan
Allah
Ta'ala berfirman:
"Belumkah
datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, supaya hati mereka itu khusyu'
untuk mengingat-ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun kepada mereka itu -
yakni al-Quran. Janganlah mereka itu berkeadaan yang serupa dengan orang-orang
yang telah diberi kitab-kitab pada masa dahulu - sebelum
mereka, tetapi mereka telah melalui masa yang panjang, kemudian menjadi keras
lah hati mereka tersebut - yakni enggan menerima kebenaran." (al-Hadid:
16)
Allah
Ta'ala berfirman lagi:
"Kemudian
Kami - Allah - iringkan di belakang mereka dengan
beberapa Rasul Kami dan Kami iringkan pula dengan Isa anak Maryam, serta Kami
berikan Injil kepadanya. Kami memberikan perasaan kasih sayang dalam hati
para pengikutnya. Keruhbaniahan itu mereka ada-adakan saja. Kami tidak
mewajibkan demikian itu atas mereka. Yang Kami perintahkan - tidak lain kecuali
mencari keredhaan Allah, tetapi mereka tidak memelihara itu sebagaimana
mestinya yang ditentukan." (al-Hadid: 27)
Keterangan:
Keruhbaniahan,
ertinya hidup dalam kelompok
bagi para penganut atau pendeta-pendeta agama Nasrani. Ini bukan berasal dari
ajaran Nabiullah Isa a.s. dan itu hanyalah buatan kepala-kepala agama yang
datang sepeninggalan beliau. Islam juga tidak membenarkan adanya ruhbaniah.
Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Janganlah
engkau semua itu seperti perempuan yang menghuraikan benangnya menjadi lepas
kembali setelah dipintal kuat-kuat." (an-Nahl: 92)
Juga
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan - dan maksudnya kematian -
kepadamu." (al-Hijr: 99)
Adapun
Hadis-hadis yang menerangkan bab di atas itu, di antaranya ialah Hadisnya
Aisyah: "Mengerjakan agama yang tercinta di sisi Allah ialah yang
dikekalkan oleh orangnya - yakni tidak bosan-bosan melakukannya sekalipun
sederhana." Hadis ini telah disebutkan dalam huraian sebelum ini - Lihat
Hadis nombor 142.
Selain
Hadis di atas ialah:
153.
Dari Umar al-Khaththab r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
yang tertidur sehingga kelupaan membacakan hizibnya di waktu malam atau
sebahagian dari hizibnya itu, kemudian ia membacanya antara waktu shalat fajar
dengan zuhur, maka dicatatlah untuknya seolah-olah ia membacanya itu di waktu
malam harinya." (Riwayat Muslim)
154. Dari
Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w.
pernah bersabda kepadaku:
"Hai
Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan itu. Dulu ia suka bangun
bersembahyang malam, kemudian ia meninggalkan bangun malam
itu."
(Muttafaq 'alaih)
155. Dari
Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila terlepas
dari shalat malam, baik kerana sakit ataupun lain-lainnya, maka beliau
bersembahyang di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat." (Riwayat
Muslim)
Bab.
17
Perintah Memelihara Sunnah Dan Adab-adabnya
Allah Ta'ala
berfirman:
"Apa saja
yang diberikan oleh Rasul kepadamu semua, maka ambillah itu - yakni lakukanlah -
dan apa saja yang dilarang olehnya, maka hentikanlah itu." (al-Hasyr: 7)
Allah Ta'ala
berfirman lagi:
"Ia
- yakni Muhammad - itu tidaklah berkata-kata dengan kemahuannya sendiri. Itu
tiada lain kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya." (an-Najm:
3-4)
Juga Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Katakanlah-hai
Muhammad, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah
tentu mencintai engkau semua dan akan mengampuni dosa-dosamu." (ali-lmran:
31)
Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Dan
nescayalah di dalam peribadi Rasulullah itu merupakan ikutan - teladan
- yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan
hari akhir." (al-Ahzab: 21)
Allah
Ta'ala berfirman lagi
"Tetapi
tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum beriman benar-benar sebelum mereka
meminta keputusan kepadamu dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang
engkau berikan itu dan mereka menyerah dengan penyerahan yang
bulat-bulat." (an-Nisa': 65)
Juga Allah
Ta'ala berfirman:
"Jikalau
engkau semua memperselisihkan dalam sesuatu persoalan, maka kembalikanlah itu
kepada Aliah dan RasulNya, apabila engkau semua benar-benar
beriman kepada Allah dan hari akhir." (an-Nisa': 59)
Para
alim-ulama berkata: "Maksudnya itu ialah supaya dikembalikan
sesuai dengan al-Kitab - al-Quran - dan as-Sunnah - al-Hadis."
Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Barangsiapa
mentaati Rasul ia telah benar-benar mentaati Allah."
(an-Nisa')
Lagi
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
sesungguhnya engkau itu nescayalah memberikan petunjuk
ke jalan yang lurus iaitu jalan Allah.'' (asy-Syura: 52-53)
Allah
Ta'ala berfirman:
"Hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu menjadi takut, supaya jangan
sampai tertimpa oleh kefitnahan atau tertimpa oleh siksa yang pedih." (an-Nur:
63)
Juga
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
ingat-ingatlah olehmu semua - kaum wanita - apa-apa yang dibaca dalam
rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah - ilmu pengetahuan." (al-Ahzab:
34)
Ayat-ayat
dalam bab ini amat banyaknya.
Adapun
Hadis-hadisnya ialah:
156.
Pertama: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah
apa yang saya tinggalkan untukmu semua -maksudnya: Jangan ditanyakan apa yang
tidak saya terangkan kepadamu semua, kerana hanyasanya yang menyebabkan
kerosakan orang-orang - ummat - yang sebelumnya itu ialah sebab banyaknya
mereka bertanya-tanya - yang tidak berfaedah - lagi pula mereka suka menyalahi
kepada Nabi-nabi mereka. Oleh sebab itu jikalau saya melarang padamu akan
sesuatu hal, maka jauhilah itu dan jikalau saya memerintah padamu semua akan
sesuatu perkara, maka lakukanlah itu sekuat usahamu." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Isi yang
terkandung dalam Hadis ini ialah:
Sesuatu
yang merupakan larangan, maka sama sekali jangan dilakukan, tetapi kalau berupa
perintah, cubalah lakukan sedapat-dapatnya dan jangan putus asa untuk
memperbaiki dan menyempurnakannya. Misalnya shalat di waktu sakit: Tidak dapat
dengan berdiri, lakukan dengan duduk; tidak dapat dengan duduk, boleh dengan
berbaring dan pendek kata sedapat mungkin, asal jangan ditinggalkan sekalipun
hanya dengan isyarat memejamkan serta membuka mata dalam melakukan shalat itu.
Allah telah berfirman:
"Allah
tidak memaksa pada seseorang melainkan menurut kekuatannya."
Ummatnya
Nabi Musa 'alaihissalam yang meminta pada beliau sebagaimana kata mereka yang
dihuraikan dalam al-Quran:
"Tampakkanlah
pada kita Allah hu dengan terang-terangan."
Bukankah
ini permintaan yang melampaui batas dan tidak bermanfaat sedikitpun?
Juga
seperti ummatnya Nabi Isa 'alaihissalam sebagaimana yang diterangkan dalam
al-Quran pula. Mereka berkata:
"Adakah
Tuhan Tuan dapat menurunkan pada kita hidangan dari langit?"
Mereka
menyangka bahawa Allah tidak kuasa melakukannya. Tetapi setelah dikabulkan
permintaan mereka, tetap masih banyak yang ingkar dan kufur. Bukankah ini
keterlaluan yang luarbiasa?
Menyalahi
Nabi-nabinya sendiri sehingga menyebabkan timbul bid'ah yang bermacam-macam dan
lain-lain lagi.
Adapun
kalau berselisih dalam memahamkan hukum cabang (furu'iyah), maka itu tidaklah
menjadi bahaya sebagaimana sabda Nabi s.a.w.:
"Perselisihan
ummatku adalah rahmat."
Tetapi
perselisihan yang berbahaya dan tercela ialah apabila soal-soal cabang atau
perincian-perincian itu dibesar-besarkan hingga menjadi retaknya barisan ummat
Islam dalam menghadapi lawannya. Ini sungguh terlarang dalam agama sebagaimana
firman Allah:
"Dan
janganlah engkau semua
bercerai-berai, maka akan lemahlah engkau semua dan lenyaplah
kekuatanmu."
157. Kedua:
Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
pernah memberikan wejangan kepada kita semua, iaitu suatu wejangan yang
mengesankan sekali, hati dapat menjadi takut kerananya, matapun dapat
bercucuran. Kita lalu berkata: "Ya Rasulullah, seolah-olah itu adalah
wejangan seseorang yang hendak bermohon diri. Oleh sebab itu, berilah wasiat
kepada kita semua!" Beliau s.a.w. bersabda:
"Saya
berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, juga
suka mendengarkan dan mentaati -pemerintahan - sekalipun yang memerintah atasmu
itu seorang hamba sahaya Habsyi. Kerana sesungguhnya saja, barangsiapa yang
masih hidup panjang di antara engkau semua itu ia akan melihat berbagai
perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua menetapi
sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperolehi petunjuk - Abu
Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'annum; gigitlah sunnah-sunnah itu
dengan gigi-gigi gerahammu - yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah
olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, kerana
sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat."
Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahawa ini adalah
Hadis hasan shahih.
Keterangan:
Banyak
sekali hal-hal penting yang terkandung dalam Hadis ini, di antaranya ialah:
(a)
Orang yang berpamit yakni hendak meninggal dunia, sebab isi nasihatnya itu
sangat mendalam.
(b)
Memang kita wajib taat pada pemimpin-pemimpin kita yang memegang pemerintahan
itu, apabila mereka itu tetap menjalankan pemerintahan sebagaimana yang
diredhai oleh Allah.
(c)
Sunnahku yakni perjalanan dan sari hidupku.
(d)
Khalifah-khalifah Arrasyidun yakni
pengganti-pengganti Nabi yang bijaksana dan senantiasa mengikuti kebenaran.
Mereka itu ialah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali radhiallahu 'anhum.
(e)
Gigitlah teguh-teguh yakni peganglah selalu sekuat-kuatmu dan jangan sampai
terlepas sedetikpun.
(f)
Apa yang disabdakan Nabi s.a.w. ini agaknya kini telah
tampak benar, bukanlah bermacam-macam perselisihan yang kita hadapi sekarang,
baik kerana banyak faham yang tumbuh atau memang perbalahan sesama ummat Islam
sendiri dan lain-lain sebab lagi.
Kerana
itu satu-satunya jalan agar kita tetap selamat di dunia dan akhirat ialah
dengan berpegang teguh pada sunnah Nabi s.a.w. dan sunnah khalifah-khalifah
Arrasyidun, yang pokok kesemuanya itu ialah dalam kandungan al-Quran dan Hadis.
(g)
Bid'ah yakni sesuatu yang tidak ada dalam agama lalu diada-adakan sehingga
seolah-olah itu juga termasuk dalam agama. Bid'ah yang sedemikian inilah yang
sesat dan setiap yang sesat pasti ke neraka sebagaimana dalam Hadis lain
disebutkan:
"Maka
sesungguhnya setiap sesuatu yang diada-adakan, itu bid'ah dan setiap bid'ah adalah
sesat dan setiap kesesatan adalah di dalam neraka."
(h)
Tetapi kalau yang diada-adakan itu baik (bid'ah hasanah), maka tentu saja tidak
terlarang seperti mendirikan sekolah-sekolah (madrasah), pondok-pondok, dengan
cara yang serba moden. Semua tidak terlarang sekalipun dalam zaman Rasulullah
s.a.w. belum ada.
158.
Ketiga: Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Semua
ummatku itu dapat memasuki syurga, melainkan orang yang enggan - tidak
suka."
Beliau
ditanya: "Siapakah orang yang enggan itu, ya Rasulullah?" Beliau
menjawab:
"Barangsiapa
yang taat kepadaku, maka ia dapat memasuki syurga dan barangsiapa yang
bermaksiat padaku - menyalahi ajaranku, maka dialah orang yang benar-benar
enggan." (Riwayat Bukhari)
159.
Keempat: Dari Abu Muslim; ada yang mengatakan, dari Abu lyas, iaitu Salamah bin
'Amr bin al-Akwa' r.a., bahawasanya ada seorang lelaki di sisi Rasulullah
s.a.w., makan dengan tangan kirinya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda padanya:
"Makanlah dengan tangan kananmu!" Orang itu berkata: "Aku tidak
dapat." Beliau s.a.w. bersabda: "Jadi engkau tidak dapat?"
Sebenarnya ia berbuat demikian itu hanyalah kerana terdorong oleh kecongkaannya
belaka. Akhirnya ia benar-benar tidak dapat mengangkat tangan kanannya ke
mulutnya - untuk selama-lamanya." (Riwayat Muslim)
160.
Kelima: Dari Abu Abdillah iaitu an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hendaklah
engkau semua benar-benar meratakan barisan-barisanmu - dalam shalat, atau kalau
tidak suka meratakan barisan, pastilah Allah akan membalikkan antara
wajah-wajahmu semua -maksudnya ialah bahawa Allah akan memasukkan rasa
permusuhan, saling benci-membenci dan perselisihan pendapat dalam hatimu
semua." (Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat Imam Muslim disebutkan:
"Rasulullah
s.a.w. itu meratakan barisan-barisan kita sehingga seolah-olah beliau itu
meratakan letaknya anak panah, sampai-sampai beliau meyakinkan bahawa kita
semua telah mengerti betul-betul akan meratakan barisan itu. Selanjutnya pada
suatu hari beliau keluar - untuk bersembahyang - kemudian berdiri sehingga
hampir-hampir beliau akan bertakbir. Tiba-tiba beliau melihat ada seorang yang
menonjol dadanya - agak ke muka sedikit dari barisannya - lalu beliau bersabda:
"Hai
hamba-hamba Allah, hendaklah engkau semua benar-benar meratakan barisanmu, atau
kalau tidak suka meratakan barisan, pastilah Allah akan membalikkan antara
wajah-wajahmu semua."
Keterangan:
Dalam
Hadis di atas terdapat anjuran yang sangat keras agar di waktu shalat, barisan
itu benar-benar dilempangkan, diratakan dan diluruskan sekencang-kencangnya.
Selain itu terdapat keterangan pula perihal dibolehkannya berkata-kata dalam
waktu antara selesai-nya iqamah dengan akan dilakukannya shalat, tetapi kata-kata
itu hendaknya yang bermanfaat dan berguna.
161.
Keenam: Dari Abu Musa r.a. katanya:
"Ada
sebuah rumah di Madinah yang terbakar mengenai penghuni-penghuninya di waktu
malam. Setelah hal mereka itu diberitahukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu
beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
api itu adalah musuhmu semua. Maka dari itu, jikalau engkau semua tidur,
padamkan sajalah api itu dari padamu." (Muttafaq 'alaih)
162.
Ketujuh: Dari Abu Musa r.a. juga, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu
adalah seperti hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bahagian yang
baik, iaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan
lalang yang banyak sekali, tetapi di antara bumi itu ada pula yang gersang,
menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang tertahan itu Allah lalu
memberikan kemanfaatan kepada para manusia, kerana mereka dapat minum
daripadanya, dapat menyiram dan menanam. Ada pula hujan itu mengenai bahagian
bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bahagian
bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan
rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang yang pandai dalam agama
Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula
memberikan kemanfaatan kepada orang tadi. Maka orang itu pun mengetahuinya -
mempelajarinya, kemudian mengajarkannya - yang ini diumpamakan bumi yang dapat
menerima air atau dapat menahan air, dan itu pulalah contohnya orang yang tidak
suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia
enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan - ini
contohnya bumi yang rata dan licin." (Muttafaq 'alaih)
Faquha, dengan
dhammahnya qaf adalah menurut yang masyhur digunakan. Ada pula yang
mengatakan dengan dikasrahkan berbunyi Faqiha), ertinya menjadi pandai
atau ahli fiqih.
163. Dari
Jabir r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaanku dan
perumpamaan engkau semua itu adalah seperti seorang lelaki yang menyalakan api,
kemudian banyaklah belalang dan kupu-kupu yang jatuh dalam api tadi, sedang
orang itu mencegah binatang-binatang itu jangan sampai terjun di situ. Saya ini
- yakni Rasulullah s.a.w. - adalah seorang yang mengambil -memegang - pengikat
celana serta sarungmu semua agar tidak sampai engkau semua terjun dalam neraka,
tetapi engkau semua masih juga hendak lari dari peganganku." (Riwayat
Muslim)
Al-janadib
ialah seperti belalang dan kupu-kupu (dari golongan binatang kecil
yang terbang), sedang Al-hujaz adalah jamaknya Hujzah, ertinya
tempat mengikatkan sarung atau celana.
164.
Kesembilan: Dari Jabir r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. menyuruh
menjilat tangan-tangan dan piring; beliau juga bersabda: "Sesungguhnya
engkau semua tidak tahu di tempat manakah yang ada berkahnya."
(Riwayat Muslim)
Dalam
riwayat Imam Muslim disebutkan lagi:
Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Jikalau suapan seseorang dari engkau semua itu jatuh,
maka baiklah diambil kembali, kemudian hendaklah disingkirkan kotoran yang
melekat di situ, selanjutnya hendaklah memakannya dan janganlah itu dibiarkan -
ditinggalkan -untuk dimakan oleh syaitan. Jangan pula seseorang itu mengusap
tangannya dengan saputangan - sehabis makan itu - sehingga jari-jarinya
dijilat-jilatnya dulu, sebab seseorang itu tentulah tidak mengetahui di dalam
makanan yang mana letaknya keberkahan."
Dalam
riwayat Imam Muslim pula:
Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya syaitan itu mendatangi seseorang di antara
engkau semua di waktu ia melakukan segala sesuatu dari pekerjaannya,
sampai-sampai syaitan itu pun mendatangi orang itu di waktu ia makan. Maka dari
itu jikalau suapan itu jatuh dari seseorang di antara engkau semua, maka hendaklah
menyingkirkan kotoran-kotoran yang melekat di situ, kemudian makanlah dan
jangan dibiarkan untuk dimakan oleh syaitan."
165.
Kesepuluh: Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah
s.a.w. berdiri di hadapan kita semua untuk memberikan nasihat. Beliau bersabda:
"Hai
sekalian manusia, sesungguhnya engkau semua itu akan dikumpulkan kepada Allah
Ta'ala dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan dan kuncup - tidak
dikhitan, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang ertinya: "Sebagaimana Kami
memulai membuat makhluk untuk pertama kalinya, maka itulah yang Kami ulangkan
kembali. Sedemikian adalah janji atas Kami sendiri, sesungguhnya Kami akan
melaksanakan yang sedemikian itu." (al-Anbiya': 104)
"Ingatlah,
bahawasanya pertama-tama makhluk yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah
Ibrahim a.s. Ingatlah, bahawasanya Ibrahim itu akan didatangkan dengan disertai
beberapa orang dari ummatku, kemudian orang-orang itu diseret ke sebelah kiri
-maksudnya ke arah neraka. Saya berkata: "Ya Tuhanku, mereka adalah
sahabat-sahabatku." Lalu kepadaku dikatakan: "Sesungguhnya engkau
tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalanmu." Oleh sebab
itu saya berkata sebagaimana yang diucapkan oleh seseorang hamba yang shalih -
yakni Nabiullah Isa a.s.: "Dan saya dapat menyaksikan perbuatan mereka
selagi aku ada di kalangan mereka - semasih sama-sama di dunia," hingga
ucapannya "Maha Mulia Serta Bijaksana."
Lengkapnya
ucapan Nabiullah Isa a.s. itu tersebut dalam sebuah ayat yang ertinya:
"Dan
saya dapat menyaksikan perbuatan mereka selagi aku ada di kalangan mereka.
Tetapi setelah Engkau menghilangkan diriku, maka Engkaulah yang mengamat-amati
atas kelakuan-kelakuan mereka itu dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas
segala sesuatu. Jikalau Engkau menyiksa mereka, maka mereka itupun
hamba-hambaMu, tetapi jikalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkau adalah Maha Mulia lagi Bijaksana."
(al-Maidah: 117-118)
"Setelah
itu lalu dikatakan kepadaku: "Sebenarnya mereka itu tidak henti-hentinya
kembali pada kaki-kakinya - maksudnya menjadi murtad dari agama Allah - sejak
engkau berpisah dengan mereka itu." (Muttafaq 'alsih)
166.
Kesebelas: Dari Abu Said iaitu Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. itu melarang berkhadzaf - iaitu melemparkan kerikil
dengan jari telunjuk dan ibu jari yakni kerikil itu diletakkan di jari yang
satu yakni ibu jari lalu dilemparkan dengan jari yang lain yakni jari telunjuk.
Selanjutnya
ia berkata: "Sesungguhnya berkhadzaf itu tidak dapat membunuh binatang
buruan, tidak dapat pula membunuh musuh. Dan bahawasanya berkhadzaf itu dapat
melepaskan mata - membutakannya - dan dapat juga merontokkan gigi."
(Muttafaq 'alaih)
Dalam
riwayat lain disebutkan: Bahawasanya ada seorang keluarga dekat dari Ibnu
Mughaffal berkhadzaf, lalu olehnya orang tersebut dilarang dan berkata
bahawasanya Rasulullah s.a.w. melarang berkhadzaf itu dan berkata:
"Sesungguhnya berkhadzaf itu tidak dapat membunuh binatang
buruan." Kemudian orang yang dilarangnya itu masih mengulangi lagi
perbuatannya. Lalu Ibnu Mughaffal berkata: "Saya telah memberitahukan
kepadamu bahawasanya Rasulullah s.a.w. melarang berkhadzaf itu, tetapi engkau
masih juga mengulangi perbuatanmu. Mulai sekarang saya tidak akan berbicara
lagi padamu selama-lamanya."
Keterangan:
Hadis ini
menjelaskan bolehnya tidak menyapa atau tidak berbicara dengan para ahli pelaku
kebid'ahan, orang-orang fasik serta para penentang dan pelanggar sunnah
Rasulullah s.a.w., sekalipun hal itu dilakukan untuk selama-lamanya. Tetapi
keadaan sedemikian itu wajib diakhiri, manakala mereka yang tersebut di atas
itu sudah mengubah sikapnya dan suka mentaati ajaran-ajaran agama sebagaimana
yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim dan mu'min.
167. Dari
'Abis bin Rabi'ah, katanya: "Saya melihat Umar bin Alkhaththab r.a.
mencium batu hitam - hajar aswad -dan ia berkata: "Saya mengetahui bahawa
engkau itu adalah batu, engkau tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak
pula dapat membahayakan. Andaikata saya tidak melihat Rasulullah s.a.w. sendiri
menciummu, pastilah aku juga tidak suka menciummu." (Muttafaq 'alaih)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar