|
|
Bab.26
Menyuruh
berbuat baik Dan Melarang Dari Kemungkaran
Allah Ta'ala
berfirman:
"Hendaklah ada
di antara engkau semua itu suatu ummat -golongan - yang mengajak kepada
kebaikan, memerintah dengan kebaikan serta melarang dari kemungkaran. Mereka
itulah orang-orang yang berbahagia."
(ali-lmran:
104)
Allah
Ta'ala berfirman lagi:
"Adalah
engkau sekalian itu sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk seluruh manusia,
kerana engkau semua memerintah dengan kebaikan dan melarang dari
kemungkaran." (ali-lmran: 110)
Allah
Ta'ala juga berfirman:
"Berikanlah
pengampunan, perintahtah dengan kebaikan dan janganlah menghiraukan pada
orang-orang yang bodoh." (al-A'raf: 199)
Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Orang-orang
mu'min lelaki dan orang-orang mu'min perempuan itu, setengahnya adalah
kekasih setengahnya, kerana mereka memerintah dengan kebaikan dan melarang
dari kemungkaran." (at-Taubah: 71)
Allah
Ta'ala berfirman:
"Orang-orang
kafir dari kaum Bani Israil itu terkena laknat dari lidah Nabi Dawud dan
Isa anak Maryam. Hal itu disebabkan kerana mereka derhaka dan melanggar
aturan. Mereka tidak saling larang-melarang kemungkaran yang mereka kerjakan,
sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka lakukan itu." (al-Maidah:
78-79)
Lagi
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
katakanlah: Kebenaran itu datangnya ,dari Tuhanmu semua. Maka barangsiapa
yang ingin (beriman), maka baiklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin
(kufur) maka baiklah ia menjadi kafir." (al-Kahf:
29)
Juga
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." (al-Hijr:
94)
Allah
Ta'ala berfirman pula:
"Kami
menyelamatkan orang-orang yang melarang dari keburukan dan Kami menetapkan
hukuman kepada orang-orang yang menganiaya dengan siksaan yang pedih dengan
sebab mereka berbuat kefasikan." (al-A'raf: 165)
Ayat-ayat
dalam bab ini amat banyak sekali serta dapat dimaklumi.
Adapun
Hadis-hadisnya ialah:
185.
Pertama: Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa
di antara engkau semua melihat sesuatu kemungkaran, maka hendaklah
mengubahnya itu dengan tangannya, jikalau tidak dapat -( dengan atau
kekuasaannya), maka dengan lisannya -(dengan jalan menasihati orang yang
melakukan kemungkaran tadi )-dan jikalau tidak dapat juga - (dengan
lisannya), maka dengan hatinya - (maksudnya hatinya mengingkari serta tidak
menyetujui perbuatan itu). Yang sedemikian itu - (yakni dengan hati saja) -
adalah selemah-lemahnya keimanan." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Kemungkaran
itu jangan didiamkan saja merajalela. Bila kuasa harus diperingatkan dengan
perbuatan agar terhenti kemungkaran tadi seketika itu juga. Bila tidak
sanggup, maka dengan Iisan (dengan nasihat peringatan atau perkataan yang
sopan-santun),sekalipun ini agak lambat berubahnya. Tetapi kalau masih juga
tidak sanggup, maka cukuplah bahawa hati kita tidak ikut-ikut menyetujui
adanya kemungkaran itu. Hanya saja yang terakhir ini adalah suatu tanda bahawa
iman kita sangat lemah sekali. Kerana dengan hati itu hanya bermanfaat untuk
diri kita sendiri, sedang dengan perbuatan atau nasihat itu dapat bermanfaat
untuk kita dan masyarakat umum, hingga kemungkaran itu tidak terus
menjadi-jadi.
186.
Kedua: Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada
seorang nabi pun yang diutus oleh Allah sebelumku -Muhammad s.a.w., melainkan
ia mempunyai beberapa orang hawari - (penolong atau pengikut setia) - dari
kalangan ummatnya, juga beberapa sahabat, yang mengambil teladan dengan
sunnahnya serta mentaati perintahnya. Selanjutnya sesudah mereka ini akan
menggantilah beberapa orang pengganti yang suka mengatakan apa yang tidak
mereka lakukan, bahkan juga melakukan apa yang mereka tidak diperintahkan.
Maka
barangsiapa yang berjuang melawan mereka itu - (yakni para penyeleweng dari
ajaran-ajaran nabi yang sebenarnya ini )-dengan tangan - (atau kekuasaannya),
maka ia adalah seorang mu'min, barangsiapa yang berjuang melawan mereka
dengan lisannya, ia pun seorang mu'min dan barangsiapa yang berjuang melawan
mereka dengan hatinya, juga seorang mu'min, tetapi jikalau semua itu tidak -(
dengan tangan, Iisan dan hati), maka tiada keimanan sama sekali sekalipun
hanya sebiji sawi." (Riwayat Muslim)
187.
Ketiga: Dari Abulwalid, iaitu 'Ubadah bin as-Shamit r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. membai'at kepada kita semua untuk tetap mendengar -
patuh - serta taat, baik dalam keadaan sukar atau pun mudah, juga dalam
keadaan lapang dan payah - tertekan, juga agar kita semua lebih mengutamakan
kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Selain itu pula supaya kita
semua tidak mencabut sesuatu perkara -jabatan -dari orang yang memegangnya,
kecuali jikalau engkau semua melihat orang itu masuk dalam kekafiran yang
nyata, yang bagimu ada bukti dari Allah dalam perkara kekafirannya tadi.
Dibai'at pula agar kita semua berkata dengan hak - kebenaran - di mana saja
kita berada, tidak perlu takut untuk mengatakan hak itu akan celaan dari
orang yang suka mencela." (Muttafaq 'alaih)
188.
Keempat: Dari Annu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w.
bersabda:
"Perumpamaan
orang yang berdiri tegak - untuk menentang orang-orang yang melanggar - pada
had-had Allah - yakni apa-apa yang dilarang olehNya - dan orang yang
menjerumuskan diri di dalam had-had Allah - yakni senantiasa melanggar
larangan-laranganNya - adalah sebagai perumpamaan sesuatu kaum yang bersekutu
- yakni bersama-sama - ada dalam sebuah kapal, maka yang sebahagian dari
mereka itu ada di bahagian atas kapal, sedang sebahagian lainnya ada di
bahagian bawah kapal. Orang-orang yang berada di bahagian bawah kapal itu
apabila hendak mengambil air, tentu saja melalui orang-orang yang ada di
atasnya - maksudnya naik ke atas dan oleh sebab hal itu dianggap sukar, maka
mereka berkata: "Bagaimanakah andaikata kita membuat lubang saja di
bahagian bawah kita ini, suatu lubang itu tentunya tidak mengganggu orang
yang ada di atas kita." Maka jika sekiranya orang yang bahagian atas itu
membiarkan saja orang yang bahagian bawah menurut kehendaknya, tentulah
seluruh isi kapal akan binasa. Tetapi jikalau orang bahagian atas itu
mengambil tangan orang yang bahagian bawah - melarang mereka dengan kekerasan
- tentulah mereka selamat dan selamat pulalah seluruh penumpang kapal itu."
(Riwayat Bukhari)
189.
Kelima: Dari Ummui mu'minin iaitu Ummu Salamah yakni Hindun binti Abu Umayyah
yakni Hudzaifah radhiallahu 'anha, dari Nabi s.a.w., bahawasanya beliau
s.a.w. bersabda:
"Bahawasanya
saja nanti itu akan digunakanlah beberapa pemimpin negara - amir-amir, maka
engkau semua akan menyetujui mereka, kerana kelakuan mereka itu sebahagian
ada yang sesuai dengan syariat agama, tetapi engkau semua pun akan
mengingkari mereka-sebab ada pula kelakuan-kelakuan mereka yang melanggar
syariat agama.
Maka
barangsiapa yang benci - dengan hatinya, ia terlepaslah dari dosa, juga
barangsiapa yang mengingkari, ia pun selamat - dari siksa akhirat. Tetapi
barangsiapa yang redha serta mengikuti -pemimpin-pemimpin di atas, itulah
yang bermaksiat."
Para
sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah tidak perlu kita memerangi
mereka itu?" Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan, selama mereka masih
mendirikan shalat bersamamu semua." (Riwayat Muslim)
Maknanya
ialah bahawa barangsiapa yang membenci kepada pemimpin-pemimpin yang suka
melanggar syariat agama itu dengan hatinya, kerana tidak kuasa mengingkari
mereka dengan tangan atau lisannya, maka ia telah terlepas dari dosa dan ia
telah pula menunaikan tugasnya. Juga barangsiapa yang mengingkari dengan
sekadar kekuatannya, ia pun selamat dari kemaksiatan ini. Tetapi barangsiapa
yang redha dengan kelakuan-kelakuan mereka serta mengikuti jejak mereka, maka
itulah orang yang bermaksiat.
190.
Keenam: Dari Ummul mu'minin yakni Ummulhakam, iaitu Zainab binti Jahsy
radhiallahu 'anha, bahawasanya Rasulullah s.a.w. masuk dalam rumahnya dengan
rasa ketakutan. Beliau s.a.w. mengucapkan:
"La
ilaha illallah, celaka bagi bangsa Arab, kerana adanya keburukan yang telah
dekat. Hari itu telah terbuka tabir Ya'juj dan Ma'juj , seperti ini," dan beliau s.a.w.
mengolongkan kedua jarinya sebagai bulatan, yakni ibu jari dan jari
sebelahnya - jari telunjuk. Saya - Zainab - lalu berkata: "Ya
Rasulullah, apakah kita akan binasa, sedangkan di kalangan kita masih ada
orang-orang yang shalih?" Beliau s.a.w. bersabda: "Ya jikalau
keburukan itu telah banyak." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Hadis
ini menunjukkan bahawa manakala di dalam suatu tempat atau negeri sudah
terlampau banyak keburukan, kemungkaran, kefasikan dan kecurangan, maka
kebinasaan dan kerosakan akan merata di daerah itu dan tidak hanya mengenai
orang jahat-jahat saja, tetapi orang-orang shalih tidak akan dapat
menghindarkan diri dari azab Allah itu, sekalipun jumlah mereka itu cukup
banyak.
Oleh
sebab itu segala macam kemaksiatan dan kemungkaran hendaklah segera dibasmi
dan segala keburukan segera dimusnahkan, agar jangan sampai terjadi
malapetaka sebagaimana yang dihuraikan di atas.
191.
Ketujuh: Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Hindarilah olehmu semua duduk-duduk di jalan-jalanan." Para
sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kita tidak dapat meninggalkan
duduk-duduk kita, sebab kita semua bercakap-cakap di situ." Rasulullah
s.a.w. lalu bersabda; "Jikalau engkau semua enggan, melainkan tetap
ingin duduk-duduk di situ, maka berikanlah jalan itu haknya." Mereka
bertanya: "Apakah haknya jalan itu,ya Rasulullah?" Beliau s.a.w.
bersabda: "Iaitu memejamkan mata, menahan diri membuat sesuatu yang
berbahaya, menjawab salam, memerintah dengan kebaikan dan melarang dari
kemungkaran." (Muttafaq 'alaih)
192.
Kelapan: Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w.
melihat sebentuk cincin pada jari seseorang, kemudian beliau melepaskannya
lalu meletakkannya dan bersabda: "Seseorang dari engkau semua sengaja
menuju kepada bara api dari neraka, maka ia menjadikannya dalam
tangannya."
Kemudian
setelah Rasulullah s.a.w. pergi, kepada orang yang memiliki cincin itu
dikatakan: "Ambillah cincinmu. Manfaatkanlah ia - untuk keperluan
lain." Orang itu menjawab: "Tidak, demi Allah, saya tidak akan
mengambil cincin ini selama-lamanya. Bukankah ia telah diletakkan oleh
Rasulullah s.a.w." (Riwayat Muslim)
193.
Kesembilan: Dari Abu Said al-Hasan al-Bashri bahawasanya 'Aidz bin 'Amr r.a-
masuk ke tempat 'Ubaidullah bin Ziad lalu berkata: "Hai anakku, saya
pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya seburuk-buruk
penggembala ialah orang yang tidak belas kasihan - pada gembalanya," maka
janganlah engkau termasuk golongan penggembala yang semacam itu."
'Ubaidullah bin Ziad lalu berkata: "Duduklah, kerana hanyasanya engkau
itu adalah termasuk antah dari golongan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. -
maksudnya bukan termasuk sahabat pilihan atau yang utama, 'Aidz bin 'Amr
menjawab: "Apakah di kalangan sahabat-sahabat ada yang termasuk golongan
antah? Yang termasuk antah ialah orang-orang yang datang sesudah
sahabat-sahabat beliau s.a.w. itu atau yang memang bukan sahabat."
(Riwayat Muslim)
Keterangan:
Huthamah,
ertinya manusia yang bersikap keras kepala gembalanya, baik cara
menggiringnya ke ladang yakni tempat penggembalaan, dalam cara memberikan
makanan dan minuman dan lain-lain lagi, sehingga yang digembalakan itu
terdesak-desak antara yang satu dengan yang lain. Juga sering kali ia
memukulnya sehingga menyakitkan sekali.
Hadis
di atas bukan hanya khusus untuk penggembala ternak saja, tetapi juga
penggembala rakyat, yakni para penguasa yang memimpin negara, para majikan
terhadap kaum buruhnya, komandan terhadap pasukannya, guru terhadap muridnya
dan lain-lain sebagainya.
Semua
itu diperintahkan oleh agama Islam agar bersikap sebagai kedua orang tua yang
amat kasih sayang kepada anaknya.
194.
Kesepuluh: Dari Hudzaifah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Demi Zat yang
jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, nescayalah engkau semua
memerintahkan dengan kebaikan dan melarang dari kemungkaran atau kalau tidak,
maka hampir-hampir saja Allah akan menurunkan siksa kepadamu semua, kemudian
engkau semua berdoa kepadaNya, tetapi tidak akan dikabulkan untukmu semua doa
itu."
Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
195.
Kesebelas: Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Seutama-utamanya
jihad ialah mengucapkan kalimat menuntut keadilan di hadapan seorang sultan -
pemegang kekuasaan negara yang menyeleweng."
Diriwayatkan
oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah
Hadis hasan.
Keterangan:
Sebabnya
berkata adil dan hak (benar) kepada sultan (penguasa negara) yang curang itu
dianggap jihad atau perjuangan yang paling utama, kerana memang jarang sekali
yang berani melaksanakan, sebab takut balas dendamnya.
Yang
dimaksudkan kalimat adil dan hak itu seperti menasihati jikalau sultan atau penguasa
itu bertindak sewenang-wenang, menyeleweng dari tuntunan yang benar atau ia
sendiri berbuat kemaksiatan dan kemungkaran.
Juga
termasuk di dalamnya apabila orang bawahan sultan atau penguasa tadi
memberikan laporan, ertinya apa yang dilaporkan itu wajiblah menurut
kenyataan. Rakyat miskin jangan dilaporkan makmur, ummat mengeluh jangan
dilaporkan gembira, hasil tanaman rosak jangan dilaporkan memuaskan dan
sebagainya.
Jikalau
semua itu dilaksanakan baik-baik, maka bererti bahawa orang yang suka melakukannya
tersebut telah menunaikan jihad atau perjuangan yang seutama-utamanya.
196.
Keduabelas: Dari Abu Abdillah, iaitu Thariq bin Syihab al-Bajali al-Ahmasi
r.a. bahawasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi s.a.w. dan ia telah
meletakkan kakinya pada sanggur di - tempat berpijak pada kenderaan unta atau
lain-lain yang terbuat dari kulit atau kayu, katanya: "Manakah jihad itu
yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Iaitu mengucapkan
kata-kata yang hak di hadapan sultan yang menyeleweng." Diriwayatkan
oleh Nasa'i dengan isnad shahih.
197.
Ketigabelas: Dari Ibnu Mas'ud r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
pertama kali cela yang mengenai kaum Bani Isratl ialah bahawasanya ada
seorang lelaki yang bertemu dengan lelaki lainnya, kemudian orang tadi
berkata kepada kawannya: "Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah apa
yang engkau kerjakan, sebab hal itu tidak halal untukmu." Kemudian orang
itu menemui kawannya pada esok harinya, sedang kawannya itu masih mengerjakan
sebagaimana keadaannya kelmarin, tetapi perbuatannya yang sedemikian itu
tidak menyebabkan ia enggan untuk tetap menjadi kawannya makan, minum dan
duduk bersama. Ketika kaum Bani Israil sudah sama melakukan yang seperti
tadi, Allah lalu memukulkan - membencikan - hati setengah mereka kepada
setengahnya, kemudian beliau mengucapkan ayat - yang ertinya:
"Orang-orang kafir dari kaum Bani Israil itu dilaknat atas lisannya
Dawud dan Isa anak Maryam. Yang sedemikian itu disebabkan mereka durhaka dan
melanggar peraturan (78). Mereka tidak saling larang-melarang pada
kemungkaran yang mereka kerjakan, alangkah buruknya apa yang mereka lakukan
itu (79). Engkau melihat kebanyakan mereka itu mengambil orang-orang kafir
menjadi pemimpin, sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kirimkan lebih
dulu untuk diri mereka, sehingga firmanNya: "Kebanyakan mereka adalah
orang-orang fasik." (al-Maidah: 78-81)
Selanjutnya
beliau s.a.w. bersabda:
"Jangan
demikian, demi Allah, nescayalah engkau semua itu wajib memerintahkan
kebaikan, melarang dari kemungkaran, mengambil tangan orang yang zalim -
yakni menghentikan kezalimannya - serta mengembalikannya atas kebenaran yang
sesungguhnya, juga membasmi tindakannya kepada yang hak saja dengan
pembatasan yang sesungguh-sungguhnya. Atau jikalau semua itu tidak dilakukan,
maka nescayalah Allah akan memukulkan - membencikan - hati setengahmu
terhadap setengahnya kemudian melaknati - mengutuk - engkau semua sebagaimana
Dia mengutuk mereka - Bani Israil."
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Ini adalah menurut lafaznya Imam 'Abu Dawud.
Adapun
lafaznya Imam Tirmidzi ialah:
Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Ketika kaum Bani Israil sudah terjerumus dalam
berbagai kemaksiatan, lalu alim ulama mereka itu pun melarang mereka, tetapi
mereka tidak menghentikan perbuatan mereka itu. Kemudian alim ulama tadi
mengawani mereka dalam duduk, makan dan minumnya - sebagai menyetujui
kemungkaran yang dilakukan itu.
Kerana
itu Allah lalu memukulkan - membencikan - hati setengah mereka terhadap
setengahnya serta melaknat mereka atas lidahnya Nabi Dawud dan Isa anak
Maryam. Yang sedemikian itu adalah kerana mereka telah melanggar aturan."
Kemudian
Rasulullah s.a.w. duduk dan sebelum itu beliau s.a.w. bersandar, lalu
meneruskan sabdanya: "Jangan demikian. Demi Zat yang jiwaku ada di dalam
genggaman kekuasaanNya. Laknat itu pasti datang, sehingga engkau semua
mengembalikan orang-orang yang berbuat kemungkaran itu kepada kebenaran yang
sesungguh-sungguhnya."
198.
Keempatbelas: Dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. katanya: "Hai sekalian
manusia, sesungguhnya engkau semua tentu membaca ayat ini - yang ertinya: "Hai
sekalian orang-orang yang beriman, jagalah dirimu sendiri, tidaklah akan
membikin bahaya kepadamu semua orang yang sesat itu, jikalau engkau telah
memperolehi petunjuk." (al-Maidah: 105), tetapi sesungguhnya saya
juga mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya
para manusia itu apabila melihat orang yang zalim, lalu tidak mengambil atas
kedua tangannya — tidak menghentikan perbuatannya, maka hampir saja Allah
akan meratakan terhadap seluruh manusia tadi dengan menurunkan siksaNya."
Diriwayatkan
oleh Imam-Imam Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i dengan isnad-isnad yang shahih.
|
|
Catatan pribadi agar tidak hilang untuk dibaca anak cucu dikemudian hari, amin
Jumat, 13 Januari 2017
Terjemah Riyadlush-sholihin Bab. 26 Menyuruh berbuat baik Dan Melarang Dari Kemungkaran
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar