Bab.14
Berlaku Sederhana Dalam Beribadat
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidaklah Kami turunkan al-Quran itu padamu - hai Muhammad
agar engkau mendapat celaka." (Thaha: 1-2)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Allah menghendaki kemudahan padamu semua dan tidak
menghendaki kesukaran untukmu semua." (al-Baqarah: 185)
142. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Nabi s.a.w.
memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau s.a.w.
bertanya: "Siapakah ini?" Aisyah menjawab: "Ini adalah si
Anu." Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi - yang sangat
luar biasa tekunnya.
Beliau s.a.w. bersabda: "Jangan demikian, hendaklah engkau
semua berbuat sesuai dengan kekuatanmu semua saja. Sebab demi Allah, Allah
itu tidak bosan - memberi pahala - sehingga engkau semua bosan - melaksanakan
amalan itu. Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu
ialah apa-apa yang dikekalkan melakukannya oleh orangnya itu - yakni tidak
perlu banyak-banyak asalkan langsung terus." (Muttafaq 'alaih)
Mah adalah kata untuk
melarang dan mencegah. Maknanya La yamallullahu, ialah Allah tidak
bosan, maksudnya bahwa Allah tidak akan memutuskan pahalanya padamu semua
atau balasan pada amalan-amalanmu itu ataupun memperlakukan engkau semua
sebagai perlakuan orang yang sudah bosan. Hatta tamallu artinya
sehingga engkau semua yang bosan lebih dulu, lalu amalan itu ditinggalkan.
Oleh sebab itu seyogyanya engkau semua mengambil amalan itu
sekuat tenagamu saja yang sekiranya akan tetap langsung dan kekal
melakukannya agar supaya pahalanya serta keutamaannya tetap atas dirimu
semua.
143. Dari Anas r.a., katanya: Ada tiga macam orang datang ke
rumah isteri-isteri Nabi s.a.w. menanyakan tentang hal bagaimana ibadahnya
Nabi s.a.w. Kemudian setelah mereka diberitahu lalu seolah-olah mereka
menganggap amat sedikit saja ibadah beliau. s.a.w. itu. Mereka lalu berkata:
"Ah, di manakah kita ini - maksudnya: Kita ini jauh perbedaannya kalau
dibandingkan - dari Nabi s.a.w. sedangkan beliau itu telah diampuni segala
dosanya yang lampau dan yang kemudian."
Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka
saya bersembahyang semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata:
"Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya
berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya
menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan kawin selama-lamanya."
Rasulullah s.a.w. kemudian mendatangi mereka lalu bersabda:
"Engkau semuakah yang mengatakan demikian, demikian? Wahai, demi Allah,
sesungguhnya saya ini adalah orang yang tertaqwa di antara engkau semua
kepada Allah dan tertakut kepadaNya, tetapi saya juga berpuasa dan juga
berbuka, sayapun bersembahyang tetapi juga tidur, juga saya suka kawin dengan
para wanita. Maka barangsiapa yang enggan pada cara perjalananku, maka ia
bukanlah termasuk dalam golonganku." (Muttafaq 'alaih)
144. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan." Beliau s.a.w.
menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya." (Riwayat Muslim)
Almutanathtbi'un yaitu orang-orang yang
memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan sesuatu yang bukan pada tempatnya.
145. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seseorang
melainkan agama itu akan mengalahkannya - yakni orang yang
memperkeras-keraskan itu sendiri yang nantinya akan merasa tidak kuat
meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang
sederhanasaja-jikalau tidak kuasa melakukan yang sesempurna-sempurnanya,
bergembiralah - untuk memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah
pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu, baikdi waktu pergi pagi-pagi,
sore-sore ataupun sebagian waktu malam." (Riwayat Bukhari)
Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan:
"Berlaku luruslah, lakukanlah yang
sederhana, pergilah di waktu pagi, juga di waktu sore serta
sebagian di waktu malam.
Berbuatlah sederhana,tentu engkau semua akan sampai pula – pada
tujuannya."
Addin itu dirafa'kan karena
merupakan maf'ulnya fi'il yang tidak disebutkan fa'ilnya. Ada pula yang
mengatakan bahwa itu harus dinashabkan.
Ada yang meriwayatkan dengan lafaz Lan yusyaddad dina ahadun,
artinya tidak seorangpun yang hendak memperkeraskan agama tersebut.
Sabda Rasulullah s.a.w. Illa ghalalabahu, artinya
melainkan agama itu mengalahkannya, yakni bahwa agama tadi mengalahkan orang
itu dan dengan sendirinya orang yang memperkeras-keraskan sendiri itu
akhirnya akan lemah untuk menghadapi agama tersebut, sebab banyak jalan yang
perlu ditempuhnya.
Ghadwah ialah bepergian pada pagi
hari dan Rawhah pada sore hari, sedang Adduljah ialah pada
akhir malam. Ini semua adalah sebagai kata kiasan atau perumpamaan. Maksudnya
ialah: Hendaklah engkau semua memohonkan pertolongan untuk melakukan ketaatan
kepada Allah 'Azzawajalla itu dengan melakukan berbagai amalan di waktu
engkau semua dalam keadaan bersemangat, serta hati dalam keadaan
lapang, sehingga dengan demikian engkau semua akan merasa lezat melakukan
ibadah tadi dan tidak akan merasa bosan, juga dengan itu apa yang dimaksudkan
sudah pula tercapai. Ini adalah sebagaimana seseorang yang pandai bepergian,
ia tentu berangkat dalam keadaan semacam di atas
itu dan ia beristirahat, baik dirinya maupun kendaraannya dalam waktu
sudah lelah ataupun hati kurang enak. Dengan demikian dapat pula ia mencapai
tujuannya tanpa kelelahan samasekali. Wallahu a'lam.
146. Dari Anas r.a., katanya: "Nabi
s.a.w. masuk ke dalam masjid, tiba-tiba tampak di situ ada seutas
tali yang memanjang antara dua tiang. Beliau s.a.w. bertanya: "Tali
apakah ini?" Orang-orang menjawab: "Ini adalah kepunyaan Zainab,
jikalau ia sudah malas - lelah bersembahyang, ia menggantung di situ."
Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Lepaskan sajalah. Baiklah seseorang itu
melakukan shalat di waktu ia sedang bersemangat, maka jikalau ia telah merasa
malas, baiklah ia tidur saja." (Muttafaq 'alaih)
147. Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Jikalau seseorang dari engkau semua mengantuk dan ia
sedang bersembahyang, maka baiklah ia tidur dulu, sehingga hilanglah kantuk
tidurnya. Sebab sesungguhnya seseorang dari engkau semua itu jikalau
bersembahyang sedang ia mengantuk, maka ia tidak tahu, barangkali ia memulai
memohonkan pengampunan - kepada Allah, tetapi ia lalu mencaci maki dirinya
sendiri." (Muttafaq 'alaih)
148. Dari Abu Abdillah, yaitu Jabir bin Samurah radhiallahu
'anhuma, katanya: "Saya pernah bersembahyang dengan Nabi s.a.w. beberapa
shalatan, maka keadaan shalat beliau s.a.w. itu adalah sedang dan
khutbahnyapun sedang pula." (Riwayat Muslim)
Ucapan qashdan maksudnya antara panjang dan pendek, yakni
sederhana
149. Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah r.a., katanya:
"Nabi s.a.w. mempersaudarakan antara Salman dan Abuddarda' -maksudnya
keduanya disuruh berjanji untuk berlaku sebagai saudara." Salman pada
suatu ketika berziarah ke Abuddarda', ia melihat Ummud Darda' - isteri
Abuddarda' - mengenakan pakaian yang serba kusut - yakni tidak berhias
samasekali, Salman bertanya padanya: "Mengapa saudari berkeadaan
sedemikian ini?" Wanita itu menjawab: "Saudaramu yaitu Abuddarda'
itu sudah tidak ada hajatnya lagi pada keduniaan - maksudnya: Sudah
meninggalkan keduniaan, baik terhadap wanita atau lain-lain."
Dalam riwayat Addaraquthni lafaz Fiddunyaa, diganti
dengan lafaz Fi nisaid dunyaa, artinya tidak ada hajatnya lagi pada
kaum wanita di dunia ini. Sementara itu dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ditambah
pula dengan kata-kata Yashuumun nahaar wa yaquumullail, artinya: Ia
berpuasa pada siang harinya dan terus bersembah - yang pada malam
harinya."
Abuddarda' lalu datang, kemudian ia membuatkan makanan untuk
Salman. Setelah selesai Abuddarda' berkata kepada Salman:
"Makanlah, karena saya berpuasa." Salman menjawab:
"Saya tidak akan suka makan, sehingga engkaupun suka pula makan."
Abuddarda' lalu makan.
Setelah malam tiba, Abuddarda' mulai bangun. Salman berkata
kepadanya: "Tidurlah!" Ia tidur lagi. Tidak lama kemudian bangun
lagi dan Salman berkata pula: "Tidurlah!" Kemudian setelah tiba
Akhir malam, Salman lalu berkata pada Abuddarda': "Bangunlah
sekarang!" Keduanya terus bersembahyang. Selanjutnya Salman lalu
berkata: "Sesungguhnya untuk Tuhanmu itu ada hak atas dirimu, untuk
dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada hak atasmu. Maka
berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya masing-masing."
Abuddarda' - paginya - mendatangi Nabi
s.a.w. kemudian menyebutkan peristiwa semalam itu, lalu Nabi s.a.w.
bersabda:
"Salman benar ucapannya." (Riwayat Bukhari)
Keterangan:
Dengan berdasarkan Hadis di atas, maka syariat Agama Islam
memerintahkan kepada kaum Musiimin agar antara seorang dengan yang lainnya
bersikap sebagaimana orang-orang yang bersaudara dan semata-mata bukan karena
ini atau itu, tetapi hanya untuk mengharapkan keridhaan Tuhan, juga
memerintahkan agar saling kunjung-mengunjungi karena Allah, demikian pula
bermalam di rumah saudara seagamanya karena Allah pula.
Di samping itu syariat membolehkan seseorang lelaki
bercakap-cakap dengan wanita lain yang bukan mahramnya yakni ajnabiyah,
bilamana betul-betul ada keperluan yang penting untuk berbuat sedemikian itu.
Selain itu dalam Hadis itu pula terdapat anjuran yang
sungguh-sungguh agar antara seorang muslim dengan muslim lainnya, hendaknya
gemar nasihat-menasihati dengan cara yang baik, mengingatkan siapa yang lupa
dan lalai melaksanakan perintah Allah dan ada pula anjuran untuk gemar
mengerjakan shalat malam (shalatuilail) dan lain-lain lagi.
150. Dari Abu Muhammad, yaitu Abdullah bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Nabi s.a.w. diberitahu bahwasanya saya berkata: Demi Allah,
niscayalah saya akan berpuasa pada pagi hari dan berdiri bersembahyang di
waktu malam - maksudnya setiap hari, siangnya berpuasa dan malamnya
bersembahyang sunnah, selama hidupku." Rasulullah s.a.w. lalu bersabda:
"Apakah engkau yang berkata
sedemikian itu?" Saya
menjawab kepadanya:
"Sungguh saya berkata demikian itu, bi-abi
anta wa ummi, ya Rasulullah." Beliau.bersabda:
"Sesungguhnya engkau tidak kuat melaksanakan itu, maka dari itu
berpuasalah, berbukalah, tidurlah dan juga berdirilah - bersembahyang malam.
Dalam sebulan itu berpuasalah tiga hari, sebab sesungguhnya kebaikan itu
dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Jadi tiga hari sebulan itu sama dengan
berpuasa setahun penuh." Saya berkata: "Saya masih kuat beramal
yang lebih utama dari itu." Beliau s.a.w, bersabda: "Kalau begitu
berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari." Saya berkata lagi:
"Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Beliau s.a.w.
bersabda: "Kalau begitu berpuasalah sehari dan berbukalah sehari pula.
Yang sedemikian itu adalah puasanya Nabi Dawud a.s. dan inilah
sesedang-sedangnya berpuasa." Dalam riwayat lain disebutkan: "Yang
sedemikian itu adalah seutama-utamanya berpuasa." Saya berkata pula:
"Saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Rasulullah
s.a.w. lalu bersabda: "Tidak ada yang lebih utama daripada puasa -
seperti Nabi Dawud a.s. itu." Sebenamya andaikata saya menerima saja
tiga hari yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. -pertama kali - itu adalah
lebih kucintai daripada seluruh keluarga dan hartaku."
Dalam riwayat lain disebutkan demikian:
Nabi s.a.w. bersabda: "Bukankah saya telah diberitahu
bahwasanya engkau berpuasa pada siang hari dan bersembahyang sunnah setiap
malamnya?" Saya menjawab: "Benar, ya Rasulullah." Beliau lalu
bersabda: "Jangan mengerjakan seperti itu. Berpuasalah dan berbukalah,
tidurlah dan bangunlah, karena sesungguhnya untuk tubuhmu itu ada hak atas
dirimu, kedua matamu pun ada haknya atas dirimu, isterimu juga ada hak
atasmu, untuk tamumu pun ada hak atasmu. Sebenamya sudah cukuplah jikalau
untuk setiap bulan itu engkau berpuasa sebanyak tiga hari saja, sebab
sesungguhnya setiap kebaikan itu diberi
pahala dengan sepuluh kali lipatnya.
Jadi berpuasa tiga hari setiap bulan itu sama halnya dengan berpuasa setahun
penuh." Saya - maksudnya Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash -
mengeras-ngeraskan sendiri lalu diperkeraskanlah atas diriku. Saya
berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya masih
mempunyai kekuatan untuk lebih dari itu." Beliau s.a.w. lalu bersabda:
"Kalau begitu berpuasalah seperti puasanya Nabiullah Dawud dan jangan
engkau tambahkan lagi dari itu - yakni sehari berpuasa dan sehari
berbuka." Saya bertanya:
"Bagaimanakah berpuasanya Dawud a.s.?"
Beliau s.a.w. bersabda:
"Ia berpuasa setengah tahun."
Abdullah, setelah tuanya berkata: "Alangkah baiknya jikalau
dahulu saya terima saja keringanan yang diberikan oleh Rasulullah
s.a.w." Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
Nabi s.a.w. bersabda: "Bukankah saya telah diberitahu
bahwasanya engkau berpuasa setahun penuh dan mengkhatamkan bacaan al-Quran
sekali setiap malam?" Saya menjawab: "Benar demikian ya Rasulullah
dan saya tidak menghendaki dengan amalan yang sedemikian itu melainkan
mengharapkan kebaikan belaka." Beliau s.a.w. lalu bersabda:
"Berpuasalah seperti puasanya Nabiullah Dawud a.s., sebab sesungguhnya
ia adalah setaat-taat manusia perihal ibadatnya. Selain itu khatamkanlah
bacaan al-Quran itu sekali dalam setiap bulan." Saya berkata: "Ya
Nabiullah, saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Beliau
s.a.w. bersabda: "Kalau begitu khatamkanlah itu sekali setiap dua puluh
hari." Saya berkata: "Ya Nabiullah, sebenarnya saya masih kuat yang
lebih utama dari itu." Beliau s.a.w. bersabda:
"Kalau begitu khatamkanlah itu
sekali dalam setiap sepuluh hari." Saya berkata: "Ya
Nabiullah,saya masih kuat beramal yang lebih utama dari itu." Beliau
s.a.w. bersabda: "Kalau begitu, khatamkan sajalah al-Quran itu sekali
dalam seminggu dan jangan ditambah lagi - beratnya amalan tadi - lebih dari
itu." jadi saya memperberatkan diri sendiri lalu diperberatkanlah amalan
itu atas diriku. Nabi pada saat itu bersabda: "Sesungguhnya engkau tidak
tahu, barangkali engkau akan diberi usia yang panjang." Maka
jadilah saya sampai pada usia tua sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi
s.a.w. Setelah saya berusia tua, saya ingin sekali kalau dahulunya saya
menerima saja keringanan yang diberikan oleh Nabiullah s.a.w.
Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya untuk anakmu
pun ada hak atas dirimu."
Juga dalam riwayat lain disebutkan: "Tidak dibenarkanlah
seseorang yang berpuasa terus sepanjang tahun." Ini disabdakan oleh
beliau s.a.w. sampai tiga kali.
Selain itu dalam riwayat lain disebutkan demikian: "Puasa
yang amat tercinta di sisi Allah adalah puasanya Nabi Dawud, sedang shalat
yang amat tercinta di sisi Allah juga shalatnya Nabi Dawud. Ia tidur separuh
malam, lalu bangun - untuk bersembahyang malam - sepertiga malam, kemudian
tidur lagi seperenam malam. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia tidak
akan lari jikalau menemui - berhadapan dengan musuhnya.
Ada pula riwayat lain yang menyebutkan demikian: "Ia
berkata: Ayahku mengawinkan saya dengan seorang wanita yang memiliki keturunan
baik. Ayah membuat janji dengan menantunya - wanita itu - yakni isteri
anaknya, untuk menanyakan pada wanita perihal keadaan suaminya. Setelah
ditanya, isterinya itu berkata: Sebaik-baik lelaki ialah suamiku itu, ia
tidak pernah menginjak hamparan kita dan tidak pernah memeriksa tabir kita -
maksudnya tidak pernah berkumpul untuk menyetubuhi isterinya - sejak kita
datang padanya."
Setelah peristiwa itu berjalan lama, maka ayahnya memberitahukan
hal tersebut kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada ayahnya:
"Pertemukanlah saya dengan lelaki itu."
Saya menemui Nabi s.a.w. sesudah diadukan oleh ayahku itu,
beliau s.a.w. bertanya: "Bagaimanakah caranya engkau berpuasa?"
Saya menjawab: "Saya berpuasa tiap hari." Beliau s.a.w. bertanya:
"Bagaimanakah caranya engkau mengkhatamkan al-Quran?" Saya
menjawab: "Setiap malam saya khatamkan sekali." Seterusnya orang
itu menyebutkan sebagaimana ceritera yang sebelumnya. Ia menghabiskan
sebagian bacaan al-Quran itu atas isterinya sebanyak sepertujuh bagian, yang
dibacanya itu dirampungkannya di waktu siang agar lebih ringan untuk apa yang
akan dibacanya di waktu malamnya. Jikalau ia hendak memperkuatkan dirinya, ia
berbuka selama beberapa hari dan dihitunglah jumlah hari berbukanya itu
kemudian berpuasa sebanyak hari di atas itu pula. Sebabnya ia melakukan
demikian, karena ia tidak senang kalau meninggalkan sesuatu sejak ia berpisah
dengan Nabi s.a.w.
Semua riwayat di atas adalah shahih, sebagian besar dari shahih
Bukhari dan shahih Muslim dan hanya sedikit saja yang tertera dalam salah
satu kedua kitab shahih itu - yakni Bukhari dan Muslim saja.
151. Dari Abu Rib'i yaitu Hanzhalah bin Arrabi' al-Usayyidi
al-Katib, salah seorang diantara jurutulisnya Rasulullah s.a.w..katanya:
"Abu Bakar bertemu denganku, lalu ia berkata: Bagaimanakah keadaanmu hai
Hanzhalah." Saya menjawab: "Hanzhalah takut pada dirinya sendiri
kalau sampai menjadi seorang munafik." Abu Bakar berkata lagi:
"Subhanallah - sebagai tanda keheranan, apakah yang kau ucapkan
itu?" Saya menjawab: "Semula kita berada di sisi Rasulullah s.a.w.
Beliau mengingat-ingatkan kepada kita perihal syurga dan neraka, seolah-olah
keduanya itu benar-benar dapat dilihat-tampak di mata. Tetapi setelah kita
keluar dari sisi Rasulullah s.a.w., kita masih juga bermain-main dengan
isteri-isteri, anak-anak dan mengurus berbagai harta - untuk kehidupan kita
di dunia ini, sehingga dengan demikian, banyak yang kita lupakan - tentang
hal syurga dan neraka tadi." Abu Bakar lalu berkata: "Demi Allah,
sesungguhnya kami sendiripun pernah mengalami seperti yang kau alami
itu." Selanjutnya saya dan Abu Bakar berangkat bersama sampai masuk ke
tempat Rasulullah s.a.w. lalu saya berkata: "Hanzhalah takut pada dirinya
sendiri kalau sampai menjadi seorang munafik, ya Rasulullah." Rasulullah
s.a.w. lalu bertanya: "Mengapa demikian?" Saya menjawab: "Ya
Rasulullah kita semula ada di sisi Tuan dan Tuan mengingat-ingatkan kepada
kita perihal neraka dan syurga seolah-olah keduanya itu dapat dilihat oleh
mata. Tetapi setelah kita keluar dari sisi Tuan, kitapun masih juga
bermain-main dengan isteri-isteri, anak-anak serta mengurus pula berbagai
harta, sehingga karena itu, banyak yang kita lupakan tentang keduanya
tadi." Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi Zat yang
jiwaku ada didalam genggaman kekuasaanNya, jikalau engkau semua tetap
sebagaimana hal keadaanmu di sisiku dan juga senantiasa berzikir - ingat
kepada Allah, niscayalah malaikat-malaikat itu menjabat tanganmu semua, baik
ketika engkau ada di hamparanmu - sedang tidur, juga ketika ada di jalananmu
- sedang berjalan-jalan. Tetapi, hai Hanzhalah, sesaat dan sesaat - maksudnya
sesaat untuk melakukan peribadatan kepada Allah dan sesaat lagi untuk
mengurus segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya,
mencari sandang pangan dan lain-lain." Ini disabdakan beliau s.a.w. tiga
kali. (Riwayat Muslim)
152. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Pada
suatu ketika Nabi s.a.w. berkhutbah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang
berdiri lalu beliau bertanya kepadanya - tentang nama dan perlunya berdiri.
"Orang-orang - para sahabat - sama berkata: "Dia adalah Abu Israil
bernazar hendak berdiri di terik matahari, tidak akan duduk-duduk, tidak akan
bernaung, tidak akan berbicara dan tetap akan berpuasa." Nabi s.a.w.
lalu bersabda: "Perintahkan padanya, supaya ia suka berbicara, bernaung,
duduk-duduk dan juga supaya ia meneruskan puasanya." (Riwayat Bukhari)
Nota
kaki:
12.
Dua tiang yang dimaksudkan di sini ialah dari beberapa
tiang yang ada di masjid. Tujuan utama dalam Hadis ini ialah anjuran yang
penting sekali untuk diperhatikan, yakni hendaknya kita melaksanakan agama
Islam ini jangan melampaui batas, khususnya dalam peribadatan, seperti
shalat, puasa dan lain-lain yang termasuk sunnah hukumnya. Jadi kita dilarang
mempersangatkan diri sendiri, sehingga membuat kita lelah dan akhirnya malas.
Juga terdapat suatu anjuran lain, yakni hendaklah dalam mengerjakannya itu
dengan penuh semangat dan bukan seenaknya saja.
BAB 15
|
Catatan pribadi agar tidak hilang untuk dibaca anak cucu dikemudian hari, amin
Jumat, 13 Januari 2017
Terjemah Riyadlush-sholihin Bab.14 & 15 Berlaku Sederhana Dalam Beribadat DAN Memelihara Kelangsungan Amalan-amalan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar