Jumat, 13 Januari 2017

Terjemah Riyadlush-sholihin Bab. 21 Tolong-menolong Dalam Kebaikan Dan Ketaqwaan dan Bab.22 Nasehat





Bab.21 
Tolong-menolong Dalam Kebaikan Dan Ketaqwaan

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan   tolong-menolong  engkau  semua   atas   kebaikan   dan ketaqwaan." (al-Maidah: 2)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amatan shalih, juga suka sating pesan-memesan dengan kebenaran serta saling pesan-memesan dengan saling kesabaran." (al-'Ashr: 1-3)
Imam as-Syafi'i rahimahullah mengucapkan suatu uraian yang maksudnya ialah bahawasanya seluruh manusia atau sebahagian besar dari mereka itu terlalai untuk memikir-mikirkan isi kandungan surah ini.

178.  Dari Abdur Rahman bin Zaid bin Khalid al-Juhani r.a., katanya: "Nabiullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan persiapan - bekal - untuk seseorang yang berperang fi-sabilillah, maka dianggaplah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang - yakni sama pahalanya dengan orang yang ikut berperang itu. Dan barangsiapa yang meninggalkan kepada keluarga orang yang berperang - fi-sabilillah - berupa suatu kebaikan - apa-apa yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarganya itu, maka dianggap pulalah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang." (Muttafaq 'alaih)

179. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan suatu pasukan sebagai utusan untuk memerangi Bani Lihyan dari suku Hudzail, lalu beliau bersabda: "Hendaklah dari setiap dua orang berangkat salah seorang saja dari keduanya itu -maksudnya setiap golongan supaya mengirim jumlah separuhnya, sedang separuhnya yang tidak ikut berangkat adalah yang menjamin kehidupan keluarga dari orang yang ikut berangkat berperang itu, dan pahalanya adalah antara keduanya - ertinya pahalanya sama antara yang berangkat dengan yang menjamin keluarga yang berangkat tadi." (Riwayat Muslim)

180. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bertemu dengan sekelompok orang yang berkenderaan di Rawha' - sebuah tempat di dekat Madinah, lalu beliau bertanya "Siapakah kaum ini?" Mereka menjawab: "Kita kaum Muslimin." Kemudian mereka bertanya: "Siapakah Tuan?" Beliau menjawab: "Saya Rasulullah." Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang anak kecil di hadapan beliau lalu bertanya: "Adakah anak ini perlu beribadat haji?" Beliau menjawab: "Ya dan untukmu - wanita itu - juga ada pahalanya." (Riwayat Muslim)

181. Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. dari Nabi s.a.w. bahawasanya beliau s.a.w. bersabda:
"Juru simpan yang Muslim dan dapat dipercaya yang dapat melangsungkan apa yang diperintahkan padanya, kemudian memberikan harta yang disimpannya dengan lengkap dan cukup, juga memberikannya itu dengan hati yang baik - tidak kesal atau iri hati pada orang yang diberi, selanjutnya menyampaikan harta itu kepada apa yang diperintah padanya, maka dicatatlah ia - juru simpan tersebut - sebagai salah seorang dari dua orang yang bersedekah - juru simpan dan pemiliknya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Yang memberikan untuk apa saja yang ia diperintahkan." Para ulama lafaz almutashaddiqain dengan fathah qaf serta nun kasrah, kerana tatsniyah atau sebaliknya - kasrahnya qaf serta fathahnya nun, kerana jamak. Keduanya shahih.
  
Nota kaki:
  1. Saling pesan-memesan dengan kebenaran, yakni tetap dalam ketaatan, keimanan dan keislaman, sedang pesan-memesan dengan kesabaran, yakni sabar untuk melakukan berbakti kepada Tuhan, melaksanakan perintah-perintahNya, juga sabar meninggalkan kemaksiatan, kemungkaran serta menjauhi larangan-laranganNya.


  2. Bab.22 
    Nasihat

    Allah Ta'ala berfirman:
    "Hanyasanya sekalian orang yang beriman itu adalah sebagai saudara-saudara." (al-Hujurat: 10)
    Allah Ta'ala berfirman sebagai pemberitahuan tentang keadaan Nuh a.s.:
    "Dan saya memberikan nasihat kepadamu semua." (al-A'raf: 62)
    Dan tentang Hud a.s. firmanNya:
    "Dan saya adalah penasihat untukmu semua yang terpercaya." (al-A'raf: 68)
    Adapun Hadis-hadisnya ialah:

    182. Pertama: Dari Abu Ruqayyah iaitu Tamim bin Aus ad-Dari r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
    "Agama itu adalah merupakan nasihat."
    Kita semua bertanya: "Untuk siapa?"
    Beliau s.a.w. menjawab: "Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi rasulNya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi segenap umumnya ummat Islam." (Riwayat Muslim)
    Keterangan:
    Sendi pokok dan tiang utama dalam Agama Islam adalah nasihat. Kata "nasihat" itu meliputi seluruh makna dan pengertian yang tujuannya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan bagi orang yang dinasihati.
    Dalam Hadis di atas dijelaskan intisari dan pengertian nasihat itu, yakni:
    Bagi Allah yakni dengan iman pada Allah dan nampaknya tanda-tanda kemuliaan Allah, bagi kitab Allah yakni dengan mengenang-ngenangkan erti-ertinya serta mengamalkan, apa saja yang tercantum di dalamnya. Bila ini sudah diamalkan, maka orang itu telah dinasihati oleh jiwanya sendiri.
    Bagi Rasul Allah yakni dengan mengikuti segala perintah-perintahnya serta tunduk dan menjauhi larangan-larangannya. Bagi pemimpin-pemimpin Islam yakni dengan meminta nasihat-nasihat dan fatwa-fatwa mereka yang mengenai hukum-hukum agama yang semuanya itu tentu diambil dari pokok-pokoknya yakni al-Quran dan Hadis, dan bagi segenap ummat Islam yakni memimpin mereka ini pada jalan yang benar serta diredhai Allah, juga menunjukkan kepada mereka ini mana-mana yang baik (benar) dan mana-mana yang buruk (salah).

    183. Kedua: Dari jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Saya membaiat kepada Rasulullah s.a.w. untuk mendirikan shalat, memberikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam." (Muttafaq 'alaih)

    184.  Ketiga: Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tidak sempurnalah keimanan seseorang itu sehingga ia mencintai kepada saudaranya - sesama musliminnya - perihal apa-apa yang ia mencintai untuk dirinya sendiri." (Muttafaq 'alaih)
    Keterangan:
    Saudara yang dimaksud di sini, kalau menurut huraian Ibnul 'Imaad ialah bukan hanya sesama Islam saja, tetapi umum, sehingga orang kafir pun masuk di dalamnya, yakni harus kita cintai sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Cinta kepada saudara yang kafir ialah dengan menginsafkan dan agar segera masuk Islam supaya selamat dirinya, di dunia dan akhirat. Kerana itu disunnahkan mendoakan orang kafir itu agar mendapat petunjuk.
    Adapun cinta pada saudara yang muslim ialah dengan terus-menerus ikut mengusahakan agar ia senantiasa tetap dalam keIslamannya.

    Nota kaki:
    1. Salah seorang sahabat Nabi s.a.w. yakni Sayidina Anas r.a. itu pernah menjadi khadam Rasulullah s.a.w. Mula-mulanya ialah, pada suatu ketika ibunya datang pada beliau s.a.w. sewaktu beliau baru datang di Madinah. Ibunya berkata: "Wahai Rasulullah, ambillah dia (Anas) sebagai khadam yang akan melayani Tuan." Nabi s.a.w. lalu menerimanya. Usia Anas saat itu kira-kira 9 atau 10 tahun. Anas berkata: "Aku melayani Rasulullah s.a.w. selama 9 atau 10 tahun. Selama masa yang sekian itu belum pernah beliau berkata pada saya: "Mengapa engkau kerjakan ini?" atau: "Mengapa tidak engkau lakukan itu?" Tetapi beliau selalu bersabda: "Allah yang menakdirkan, apa yang dikehendaki olehNya, pasti akan dilakukan dan yang ditakdirkan pasti terjadi!"







Tidak ada komentar:

Posting Komentar