Minggu, 29 Januari 2017

Terjemah Riyadush-sholihin Bab.42 Keutamaan Berbakti Kepada Kawan-kawan Ayah, Ibu, Kerabat, Isteri Dan Lain-lain Orang Yang Sunnah Dimuliakan




Bab.42 
Keutamaan  Berbakti  Kepada  Kawan-kawan  Ayah, Ibu, Kerabat, Isteri Dan Lain-lain Orang Yang Sunnah Dimuliakan

341. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya suatu kebaktian yang terbesar kebaktiannya ialah jikalau seseorang itu menghubungi - yakni mempererat hubungan - kepada kekasih ayahnya."
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya ada seorang lelaki dari golongan A'rab -golongan Arab yang berdiam di pedalaman - bertemu dengannya di suatu jalanan Makkah, lalu Abdullah bin Umar mengucapkan salam padanya dan dibawanya menaiki keledai yang dinaikinya sendiri, juga orang itu diberi sorban yang melilit di kepalanya.
Ibnu Dinar berkata: "Kita berkata kepadanya: "Semoga Allah memberikan kebaikan padamu, sesungguhnya itu adalah orang A'rab dan orang-orang A'rab itu rela dengan apa-apa yang remeh." Lalu Abdullah bin Umar menjawab: "Sesungguhnya ayahnya orang ini adalah kecintaan Umar bin Al khaththab - ayahnya sendiri - r.a., sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya kebaktian yang terbesar kebaktiannya ialah jikalau seseorang itu menghubungi - mempereratkan hubungan - kepada kekasih ayahnya."
Dalam riwayat lain dari Ibnu Dinar dari Ibnu Umar radhiallahu anhum, bahawasanya ia keluar ke Makkah. Ia mempunyai seekor keldai dan mengasuhkan diri sambil naik di atasnya, jikalau ia sudah bosan naik unta. Ia juga mempunyai sorban yang diikatkan pada kepalanya. Pada suatu hari ketika ia menaiki keldainya, tiba-tiba berlalulah di mukanya itu seorang A'rab, kemudian ia bertanya: 'Bukankah anda itu si Fulan anak si Fulan itu?" Ia menjawab: 'Benar." Orang itu lalu diberi olehnya keldai dan berkata: "Naikilah ini." Juga diberi selembar sorban dan berkata: "Ikatlah kepalamu dengan sorban ini." Sebahagian sahabat Abdullah bin Umar lalu berkata: "Semoga Allah mengampuni untukmu. Engkau telah memberikan kepada orang A'rab ini seekor keldai yang engkau gunakan untuk mengistirahatkan diri, juga engkau beri selembar sorban yang engkau ikatkan di kepalamu," Abdullah lalu menjawab: "Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya tergolong sebesar-besar kebaktian ialah jikalau seseorang itu menghubungi - mempereratkan hubungan - kepada kekasih ayahnya, setelah ayahnya itu meninggal dunia."
Sesungguhnya ayahnya orang A'rab itu adalah sahabat dari Umar r.a. - yakni ayahnya Abdullah.
Yang meriwayatkan semua Hadis-hadis di atas itu adalah Imam Muslim.

342. Dari Abu Usaid - dengan dhammahnya hamzah dan fathahnya sin - iaitu Malik bin Rabi'ah as-Sa'idi r.a., katanya: "Pada suatu ketika kita semua duduk-duduk di sisi Rasulullah s.a.w., tiba-tiba datanglah kepadanya seorang lelaki dari Bani Salamah. Orang itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah masih ada sesuatu amalan yang dapat saya amalkan sebagai kebaktian saya kepada dua orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?" Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, masih ada. Iaitu mendoakan keselamatan untuk keduanya, memohonkan pengampunan kepadanya, melaksanakan janji kedua orang itu setelah wafatnya, mempereratkan hubungan kekeluargaan yang tidak dapat dihubungi kecuali dengan adanya kedua orang tua itu serta memuliakan sahabatnya." (Riwayat Abu Dawud)

343. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya tidak pernah cemburu kepada seseorang pun dari semua isteri-isteri Nabi s.a.w. sebagaimana cemburu saya kepada Khadijah, padahal saya tidak pernah melihatnya sama sekali, tetapi Nabi s.a.w. memperbanyak menyebutkannya - yakni sering-sering disebut-sebutkan kebaikannya. Kadang-kadang Nabi s.a.w. menyembelih kambing kemudian memotong-motongnya seanggota demi seanggota, kemudian dikirimkanlah kepada kawan-kawan Khadijah itu. Kadang-kadang saya juga berkata kepada Nabi s.a.w. itu: "Seolah-olah tidak ada wanita lain di dunia ini melainkan Khadijah." Beliau s.a.w. lalu menjawab: "Sesungguhnya keadaannya adalah sebagaimana yang ada itu dan memang dari dialah saya mendapatkan anak." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Beliau s.a.w. jika menyembelih kambing, lalu tentu menghadiahkan kepada kekasih-kekasih Khadijah dengan sebahagian dari kambing itu, seberapa yang cukup untuk diberikan."
Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
"Rasulullah s.a.w. jikalau menyembelih kambing, lalu bersabda: "Kirimkanlah yang ini kepada kawan-kawan Khadijah."
Lagi dalam sebuah riwayat disebutkan:
"Halah binti Khuwailid iaitu saudarinya Khadijah meminta izin untuk menemui Rasulullah s.a.w., kemudian beliau mengingat Khadijah ketika saudarinya itu meminta izin menemuinya - sebab suaranya serupa benar dengan suara Khadijah dan ini mengingatkan benar-benar pada beliau s.a.w. pada zaman yang lampau semasih bergaul sebagai suami isteri. Kemudian beliau s.a.w. memerhatikan - bergembira - sekali untuk menemuinya itu dan bersabda: "Ya Allah, ini adalah Halah binti Khuwailid."
Ucapannya: Fartaha dengan menggunakan ha' dan dalam Aljam'u bainas shahihain oleh Humaidi disebutkan: Farta'a dengan menggunakan 'ain, ertinya ialah memperhatikan padanya. Kalau fartaha artinya menjadi gembira.

344. Dari Anas bin Malik r.a., katanya: "Saya keluar bersama Jarir bin Abdullah Albajili r.a. dalam suatu bepergian. Jarir - yang usianya lebih tua dari Anas r.a. - selalu melayani saya, lalu saya berkata padanya: "Jangan berbuat demikian itu - yakni melayani saya." Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya saya telah melihat kaum Anshar melakukan sesuatu untuk Rasulullah s.a.w., maka saya bersumpah tidak akan mengawani seorang pun dari kaum Anshar itu, melainkan saya akan melayaninya."* (Muttafaq 'alaih)
 Keterangan:
*Maksudnya untuk memuliakan Nabi s.a.w.


Terjemah Riyadush-sholihin BAB.41 Keharamannya Berani — Kepada Orangtua — Dan Memutuskan Ikatan Kekeluargaan





BAB.41 
Keharamannya Berani Kepada Orangtua Dan Memutuskan Ikatan Kekeluargaan

Allah Ta'ala berfirman:
"Apakah barangkali, andaikata engkau semua berkuasa, maka engkau semua akan membuat kerosakan di bumi dan memutuskan ikatan kekeluargaanmu semua.
"Orang-orang yang sedemikian itu adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah, lalu Allah memekakkan pendengaran mereka dan membutakan penglihatan mereka." (Muhammad: 22-23)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan orang-orang yang merosak janji Allah sesudah teguhnya dan pula memutuskan apa-apa yang diperintah oleh Allah untuk dihubungkannya serta membuat kerosakan di bumi, maka mereka itulah yang mendapatkan kelaknatan dan akan memperolehi kediaman yang buruk." (ar-Ra'ad: 25)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan Tuhanmu telah menentukan supaya engkau semua jangan menyembah melainkan Dia dan supaya engkau semua berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan kalau salah seorang di antara keduanya ada di sisimu sampai usia tua, maka janganlah engkau berkata kepada keduanya dengan ucapan "cis", dan jangan pula engkau menggertak keduanya, tetapi ucapkanlah kepada keduanya itu ucapan yang mulia - penuh kehormatan.
"Dan turunkaniah sayap kerendahan - maksudnya: Rendahkanlah dirimu - terhadap kedua orangtuamu itu dengan kasih-sayang dan katakanlah: "Ya Tuhanku, kasihanilah kedua orangtuaku itu sebagaimana keduanya mengasihi aku di kala aku masih kecil." (al-lsra': 23-24)

336. Dari Abu Bakrah iaitu Nufai' bin al-Harits r.a'., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidakkah engkau semua suka saya memberitahukan perihal sebesar-besarnya dosa besar?" Beliau menyabdakan ini sampai tiga kali. Kita-para sahabat- menjawab: "Baiklah,ya Rasulullah." Beliau s.a.w. bersabda: "Menyekutukan kepada Allah dan berani kepada kedua  orangtua."  Semula   beliau  s.a.w.   bersandar  lalu  duduk kemudian bersabda lagi: "Ingatlah, juga mengucapkan kedustaan serta menyaksikan secara palsu." Beliau s.a.w. senantiasa mengulang-ulanginya kata-kata yang akhir ini, sehingga kita mengucapkan: "Alangkah baiknya, jikalau beliau diam berhenti mengucapkannya." (Muttafaq 'alaih)

337. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w, bersabda:
"Dosa-dosa besar itu ialah menyekutukan kepada Allah, berani kepada kedua orangtua, membunuh seseorang - tidak sesuai dengan haknya - serta bersumpah secara palsu." (Riwayat Bukhari)
Alyaminul ghamus ialah sesuatu yang disumpahkan oleh seseorang dengan dusta dan disengaja, dinamakan ghamus, sebab sumpah sedemikian itu menerjunkan orang yang bersumpah itu ke dalam dosa.

338. Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Termasuk dalam golongan dosa-dosa besar ialah jikalau seseorang itu memaki-maki kedua orang tuanya sendiri." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah,adakah seseorang itu memaki-maki kedua orang tuanya sendiri." Beliau s.a.w. menjawab: "Ya, iaitu apabila seseorang itu memaki-maki ayah seseorang, lalu orang yang dimaki-maki ayahnya itu lalu memaki-maki ayahnya sendiri. Atau seseorang itu memaki-maki ibu orang lain, lalu orang yang dimaki-maki ibunya ini, memaki-maki ibunya sendiri." (Muttafaq ''alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya termasuk sebesar-besarnya dosa besar ialah apabila seseorang itu melaknat kepada kedua orang tuanya sendiri." Beliau s.a.w. ditanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah seseorang itu melaknat kedua orang tuanya sendiri?" Beliau s.a.w. bersabda: "Iaitu orang tadi memaki-maki ayah orang lain, lalu orang ini memaki-maki ayahnya sendiri atau orang itu memaki-maki ibu orang lain, lalu orang ini memaki-maki ibunya sendiri."

339.  Dari Abu Muhammad, iaitu Jubair bin Muth'im r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak akan masuk syurga seseorang yang memutuskan." Sufyan  berkata dalam riwayatnya bahawa yang dimaksudkan ialah memutuskan ikatan kekeluargaan. (Muttafaq 'alaih)

340. Dari Abu Isa, iaitu al-Mughirah bin Syu'bah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah mengharamkan kepadamu semua akan berani kepada para ibu,juga mencegah - tidak melaksanakan apa-apa yang wajib atas dirinya, meminta yang bukan miliknya serta menanam anak-anak perempuan hidup-hidup. Allah membenci kepada kata-kata qil wa qal - yakni: katanya dari si Anu, ujarnya dari si Anu, tetapi tidak ada kepastiannya, juga memperbanyak pertanyaan serta menyia-nyiakan harta  dibelanjakan kepada sesuatu yang bukan semestinya." (Muttafaq 'alaih)
Sabda Nabi s.a.w. man'an ialah mencegah atau tidak menunaikan apa-apa yang diwajibkan atau yang sudah menjadi kewajipan dirinya. Hati ertinya meminta yang bukan milik atau haknya, Wa'dul banal, iaitu menanam anak-anak perempuan dengan hidup-hidup.  Qil wa qal  maknanya ialah segala sesuatu yang didengarnya - sekalipun belum pasti kebenarannya. Orang yang suka qil wa qal itu suka mengatakan: "Dikatakan oleh si Fulan itu begini, atau si Fulan   itu   berkata   demikian,  semua   kata-kata   itu   tidak   dapat diketahui kebenarannya atau bahkan tidak disangka bahawa kata-kata itu benar. Cukuplah seseorang itu disebut berdusta, jikalau ia mempercakapkan segala apa yang didengarnya. Idha'atul mal, iaitu ditabzirkan,diobralkan atau dibelanjakan untuk jurusan-jurusan yang tidak diizinkan oleh syariat, iaitu baik yang berhubungan dengan tujuan-tujuan keakhiratan atau keduniaan, atau tidak suka menyimpannya, padahal mungkin sekali untuk disimpan - yakin ia kuasa  menyimpan.   Katsratus  sual,  yakni  banyak  bertanya  atau meminta sesuatu yang ia sendiri tidak memerlukan itu.
Dalam bab ini masih banyak lagi Hadis-hadis yang sudah disebutkan dalam bab .sebelumnya seperti Hadis - yang ertinya: "Dan Aku memutuskan orang yang memutuskan engkau - kekeluargaan, juga Hadis - yang ertinya: "Barangsiapa yang memutus­kan aku - kekeluargaan, maka Allah memutuskan ia - lihat Hadis-hadis no. 315 dan 323.