Jumat, 13 Januari 2017

Terjemah Riyadlush-sholihin Bab.19 & 20 Orang Yang Memulai Membuat Sunnah Yang Baik Atau Buruk dan Memberikan Petunjuk Kepada Kebaikan Dan Mengajak Ke Arah Hidayah Atau Ke Arah Kesesatan






Bab.19 
Orang Yang Memulai Membuat Sunnah Yang Baik Atau Buruk

Allah Ta'ala berfirman:

"Orang-orang yang beriman itu berkata: "Ya Tuhan kita, kurniakanlah kepada kita, isteri-isteri dan keturunan kita menjadi cahaya mata - menggembirakan hati - dan jadikanlah kita pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa." (al-Furqan: 74)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Kami menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk - ummat manusia - dengan perintah Kami." (al-Anbiya': 73)

172. Dari Abu 'Amr iaitu Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Kita pernah berada di sisi Rasulullah s.a.w. pada tengah siang hari. Kemudian datanglah kepada beliau itu suatu kaum yang telanjang, mengenakan pakaian bulu harimau - bergaris-garis lurik-lurik-atau mengenakan baju kurung, sambil menyandang pedang, umumnya mereka itu dari suku Mudhar, atau memang semuanya dari Mudhar, maka berubahlah wajah Rasulullah s.a.w. kerana melihat mereka yang dalam keadaan miskin itu. Kemudian beliau masuk - rumahnya, lalu keluar lagi, terus menyuruh Bilal untuk berazan. Selanjutnya Bilal berazan dan beriqamat lalu bersembahyang, kemudian beliau berkhutbah. Beliau s.a.w. mengucapkan ayat - yang ertinya: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah engkau semua kepada Tuhanmu yang menjadikan engkau semua dari satu diri - Adam," sampai ke akhir ayat iaitu - yang ertinya: "Sesungguhnya Allah itu Maha Penjaga bagimu semua." (an-Nisa': 1). Beliau membacakan pula ayat yang dalam surat al-Hasyr - yang ertinya: "Hai sekalian orang-orang yang beriman, bertaqwalah engkau semua kepada Allah dan hendaklah seseorang itu memeriksa apa yang akan dikirimkannya untuk hari esoknya."
Disaat itu ada orang yang bersedekah dengan dinarnya, dengan dirhamnya, dengan bajunya, dengan sha' gandumnya, juga dengan sha' kurmanya, sampai-sampai beliau bersabda: "Sekalipun hanya dengan potongan kurma - juga baik." Selanjutnya ada pula orang dari kaum Anshar yang datang dengan suatu wadah yang tapak tangannya hampir-hampir tidak kuasa mengangkatnya, bahkan sudah tidak kuat. Selanjutnya beruntun-runtunlah para manusia itu memberikan sedekahnya masing-masing, sehingga saya dapat melihat ada dua tompokan dari makanan dan pakaian, sampai-sampai saya melihat pula wajah Rasulullah s.a.w. berseri-seri, seolah-olah wajah beliau itu bercahaya bersih sekali. Kemudian beliau bersabda:
"Barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik, maka ia memperolehi pahalanya diri sendiri dan juga pahala orang yang mengerjakan itu sesudah -sepeninggalannya - tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohinya itu. Dan barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang buruk, maka ia memperolehi dosanya diri sendiri dan juga dosa orang yang mengerjakan itu sesudahnya - sepeninggalnya - tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohinya itu." (Riwayat Muslim)
Sabda Nabi s.a.w. Mujtabin nimar, iaitu dengan jim dan sesudah alif ada ba' bertitik satu. Annimar adalah jama'nya Namirah (Jadi Namirah itu mufrad), ertinya pakaian dari bulu yang bergaris-garis (bagaikan macan lurik), sedang makna Mujtabiha ialah mengenakannya sesudah melubangi di bahagian kepala orang-orang yang memakainya. Ini berasal dari kata Al-jaub, ertinya memotong, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Dan kaum Tsamud yang memahat dan memotong (menembus) batu-batu besar di lembah (tanah rendah)."
Sabda beliau s.a.w. Tama'-'ara, dengan 'ain muhmaiah, ertinya berubah (wajah serta sikapnya).
Adapun kata Rawi (yang meriwayatkan Hadis ini): Ra-aitu kaumaini, boleh difathahkan kafnya dan boleh pula didhammahkan, ertinya "Saya melihat dua buah tompokan atau dua buah gundukan."
Sabda Nabi s.a.w.: Ka-annabu mudzhabah, itu dengan menggunakan dzal mu'jamah dan fathahnya ha' serta ba' muwahhadah. Demikianlah yang dikatakan oleh al-Qadhi 'lyadh dan lain-lain. Tetapi sebahagian alim-ulama ada yang menulisnya lalu diucapkan Mud-hanah dengan menggunakan dal muhmaiah dan dhammahnya ha' serta nun. Demikian ini yang dibenarkan oleh al-Humaidi. Tetapi yang shahih serta masyhur ialah yang pertama. Adapun ertinya menurut kedua macam itu sama saja yakni bersih serta bercahaya.

173. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tiada seseorang pun yang dibunuh secara penganiayaan, melainkan atas anak Adam - manusia yang pertama melakukannya itu -mempunyai tanggungan dari darahnya-semua jiwa yang terbunuh secara penganiayaan, sebab sesungguhnya ia adalah pertama-tama orang yang memulai membuat sunnah membunuh - yang dimaksudkan ialah Qabil putera Nabiullah Adam a.s. yang membunuh saudaranya yakni Habil." (Muttafaq 'alaih)















Bab.20
Memberikan Petunjuk Kepada Kebaikan Dan Mengajak Ke Arah Hidayah Atau Ke Arah Kesesatan

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu." (al-Haj 76 atau al-Qashash)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan berdakwahlah menuju jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik." (an-Nahl: 125)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan tolong-menolonglah engkau semua atas kebajikan dan ketaqwaan." (al-Maidah: 2)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hendaklah ada di antara engkau semua itu suatu golongan yang berdakwah menuju kebaikan." (ali-lmran: 104)

174. Dari Abu Mas'ud iaitu 'Uqbah bin 'Amral-Anshari al-Badri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu." (Riwayat Muslim)

175. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperolehi pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohinya itu, sedang barangsiapa yang mengajak ke arah keburukan, maka ia memperolehi dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu." (Riwayat Muslim)

176. Dari Abul Abbas iaitu Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda pada hari perang Khaibar: "Nescayalah saya akan memberikan bendera ini esok hari kepada seseorang yang Allah akan memberikan kemenangan di atas kedua tangannya. Ia mencintai Allah dan RasulNya dan ia juga dicintai Allah dan RasulNya."
Malam harinya orang-orang - para sahabat - sama bercakap-cakap  berbisik-bisik,  siapa  di  antara   mereka  yang  akan  diberi bendera itu. Setelah pagi hari menjelma, orang-orang sama pergi ke tempat  Rasulullah s.a.w.  semuanya  mengharapkan  agar supaya bendera itu diberikan padanya. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Di manakah Ali bin Abu Thalib?" Kepada beliau dikatakan: "Ya Rasulullah, ia sakit kedua matanya." Beliau bersabda lagi: "Bawalah ia ke mari." Ali didatangkan di  hadapan beliau s.a.w. kemudian Rasulullah s.a.w. berludah ke kedua matanya dan mendoakan untuk kesembuhannya, lalu ia pun sembuhlah - kedua matanya, seolah-olah  tidak  pernah  sakit  sebelumnya.  Selanjutnya  beliau  s.a.w. memberikan bendera itu padanya. Ali r.a. berkata: "Ya Rasulullah, apakah  saya wajib memerangi  mereka  hingga  mereka  menjadi seperti kita semua - yakni masuk Islam?" Beliau s.a.w. menjawab: "Berjalanlah perlahan-lahan - tidak tergesa-gesa, sehingga engkau datang   di   halaman   perkampungan   mereka.   Kemudian   ajaklah mereka itu untuk masuk Islam dan beritahukanlah kepada mereka apa-apa yang wajib atas diri mereka dari hak-haknya Allah Ta'ala yang perlu dipenuhi. Demi Allah, nescayalah jikalau Allah memberikan petunjuk dengan sebab usahamu akan seseorang - satu orang saja, maka hal itu lebih baik bagimu daripada memiliki unta-unta yang merah-merah - kiasan harta yang amat dicintai oleh bangsa Arab." (Muttafaq 'alaih)

177. Dari Anas r.a. bahawasanya seorang pemuda dari suku Aslam berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini ingin mengikuti peperangan, tetapi saya tidak mempunyai sesuatu yang saya gunakan sebagai persiapan - bekal." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Datanglah pada si Fulan itu, sebab ia telah bersiap-siap - dengan bekalnya - tetapi kemudian sakit." Pemuda itu mendatangi orang tersebut dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mengucapkan salam padamu," dan pemuda itu berkata lagi: "Berikanlah kepada saya bekal-bekal yang telah Tuan siapkan." Orang tersebut lalu berkata- kepada isterinya: "Hai Fulanah, berikanlah pada orang ini apa-apa yang telah saya siapkan untuk bekal - dalam perang. Janganlah bekal itu engkau tahan sedikit pun, demi Allah, janganlah bekal itu engkau tahan sedikitpun, supaya engkau memperolehi berkah dalam bekal - yang diberikan tadi." (Riwayat Muslim)


  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar